Bagian Terakhir dari tiga tulisan. Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan yang tayang kemarin.
Eposdigi.com – Mengapa demikian karena secara ilmu pengetahuan saat mereka sekolah perawat di Larantuka, mereka diajarkan bahwa air kelapa muda adalah larutan elektrolit yg bisa mengganti fungsi infus. Anak balita butuh larutan elektrolit dari air kelapa muda, supaya bisa bertahan hidup.
Bagaimana dengan manajemen rumah sakit saat sekarang? Minimal dalam era 10-15 tahun terakhir. RSUD Larantuka di Sarotari saat dibangun tahun 1985 itu cukup representatif baik dari sisi luas areal yakni di lahan seluas 3.6 hektar. Juga tentu ada management pelayanan medis dan manajemen penunjang medis.
Saat itu penduduk kecamatan Larantuka sejumlah lebih kurang 10 ribu. Hari ini di tahun 2025 penduduk kecamatan Larantuka sudah hampir 40-50 ribu jiwa. Penduduk Flotim sekarang sekitar 280-290 ribu jiwa. Di Adonara sudah ada RS Pratama dan di Solor pun tahun lalu sudah dibangun RS Pratama.
Baca Juga:
Di 19 kecamatan sudah ada Puskesmas malah ada cukup banyak Pustu. Sedikit tambahan saja di Flotim daratan hanya ada satu rumah sakit. Kita bandingkan dengan Lembata di Lewoleba saja ada 3 rumah sakit yakni RSUD Lewoleba, RS Bukit dan RS Lepra St Damian.
Penduduk Flotim daratan saja sudah mencapai 120-130 ribu jiwa. Artinya RSUD Larantuka harus dibangun baru dengan sarana prasarana yang lebih besar lagi, karena ratio perbandingan rumah sakit dan jumlah penduduk sudah tidak sesuai lagi.
Apalagi lahan yang tersedia di areal rumah sakit sekarang masih cukup luas. Pemkab Flores Timur dan DPRD tahun depan /2026 sudah wajib bangun rumah sakit baru yang lebih luas dan besar.
Tentu dengan memperhatikan semua ratio perbandingan baik ratio pelayanan medis dan rasio penunjang medis sesuai regulasi dari pemerintah pusat.
Baca Juga:
The Good Samaritan Code Dan Manajemen Pelayanan RSUD Larantuka
Pengelolaan RS atau Management Kesehatan RS itu berbasis tingkatan atau Rujukan. Dari klinik ke pustu,ke puskesmas,ke RS Pratama ke RSU.
RS itu ada tipe A,B,C dan D. Di ibukota kabupaten itu mestinya RS tipe C. Di ibukota provinsi harusnya RS Tipe B. RS WZ Yohanes di Kupang juga RS dokter Ben Mboy sudah tipe B. Kalau RSCM itu tipe A plus, karena RSCM itu RS Pendidikan, ada sekolah perawat,medis, management RS, fakultas kedokteran hingga pendidikan spesialis.
Rumah Sakit tipe C butuh butuh dokter spesialis dasar kebidanan, penyakit dalam, bedah dan anak. Juga spesialis penunjang seperti radiologi, laboratorium dan anastesi, juga spesialisasi lanjutan seperti Mata dan THT.
RSUD Larantuka itu harusnya sudah punya evaluasi dan monitoring sesuai dengan Permenkes. Jadi sebenarnya grand design untuk perubahan ini sudah ada. Sayangnya tidak berjalan dengan baik.
Baca Juga:
Kapas di Flores Timur: Berdamai Dengan Kapitalisme Demi Kearifan Lokal?
Saya ambil contoh sebagai gambaran. Tahun 2011 karena ada kondisi obyektif terkait adanya penurunan pelayanan dan perubahan ratio jumlah penduduk, gedung, sarana-prasarana , pelayanan medis dan penunjang medis yang tidak memadai maka sudah ada perubahan yang dilakukan.
Sebagai gambaran pemkab Flotim tahun 2010 sudah pernah buat Maket RSUD Larantuka yang baru hasil kerjasama dengan ITN Malang, yang sudah memperhitungkan bangunan tahan gempa.
Di tahun 2011/2012 saat Eman Lewar jadi Direktur RSUD. Beliau tamatan SPK Kupang tahun 1981, lalu lanjut sekolah anestesi di Jakarta, dan D3 Keperawatan RSCM serta S1 Keperawatan di UGM Yogya hingga ambil S2 Management di Universitas Satiya Wacana Salatiga.
Ya Eman Lewar ini adalah ponakan dari Bapa saya. Hari ini dia jadi dosen di STIKES Denpasar. Eman sebagai Direktur RSUD Larantuka sudah buat kerjasama dengan RSU Sanglah di Denpasar dan Fakultas Kedokteran Udayana serta RS Saiful Anwar di Malang dan Fakultas Kedokteran Brawijaya.
Baca Juga:
Sudah ada kerjasama untuk beri sekolah lanjutan bagi dokter putra daerah untuk ambil spesialis baik itu 4 spesialis dasar dan 3 spesialis penunjang. Contoh putra daerah yg disekolahkan ambil spesialis yaitu dokter Asti, dokter Kor Ujan, dokter Raya, dokter Jenita, dr Naomi.
Kerjasama itu juga berlaku bagi tenaga perawat anestesi untuk memenuhi standar akreditasi. Kerjasama ini juga adalah lanjutan dari kerjasama antara Pemkab se-NTT dengan Pemprov NTT dan Fakultas Kedokteran Undana sejak tahun 2008 untuk beri beasiswa bagi putra daerah yang mau jadi dokter.
Hal ini dilakukan karena kita sebenarnya sudah punya grand design untuk naik tipe dari D ke C. Tahun 2012 juga sudah dibuatkan konsep Badan Layanan Umum Daerah bagi RSUD Larantuka, sayang nya baru terealisasi tahun 2024.
Apalagi sekarang kan sudah ada BPJS baik BPJS Kesehatan dan BPJS Tenaga Kerja jika terjadi kecelakaan kerja. Mestinya urusan manajemen keuangan sudah harus lebih baik.
Sebagai catatan saat Eman Lewar jadi Direktur RSUD Larantuka ada peningkatan pendapatan. Tahun 2012 sumbangan RSUD Larantuka ke PAD dari 5 milyar naik ke 19 miliar hingga 2017.
Baca Juga:
Menyemai Asa Perpustakaan Flores Timur Menjadi Etalase Kebudayaan dan Kearifan Lokal Lamaholot
Banyak orang di Larantuka yang paham soal manajemen medis dan rumah sakit. Ada Wakil Bupati Ignas Boli Uran yang 15 tahun jadi anggota DPRD flotim, komisi C yang membidangi urusan kesehatan dan rumah sakit.
Direktur RSUD skrg Goris Koten, seorang apoteker. Saya kenal sejak dia SMA di Larantuka, dia masih saudara saya. Pesan saya asalkan dia mau mendengar dan mau berubah maka manajemen RSUD Larantuka pun bisa berubah.
Begitupun Kepala Dinas Kesehatan kab Flotim sekarang, dokter Ogi Silimalar. Saya kenal dia sejak kecil. Dia seharusnya seperti bapa nya Dokter Tjoan Silimalar, seorang yang pintar dan berani.
Dokter Ogi harus banyak mendengar orang, jangan terlalu tertutup. Sering lah berkomunikasi, apalagi jaman komunikasi digital ini.
Baca Juga:
Tantangan Tata Kelola Koperasi Merah Putih Ditengah Fraud Startup
Saya juga kenal baik dengan dengan ade Is Kerans seorang PNS dengan latarbelakang sarjana medis, pernah jadi Kabid di Dinas Kesehatan Flotim, juga pernah jadi eselon 3 di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Dia punya semangat pada orientasi pelayanan publik.
Juga ade Yamin Lewar, sekarang anggota DPRD Flotim Komisi C. Punya latar belakang medis. Tamat SPK Di Waingapu, D3 Keperawatan di Ende dan S1 Keperawatan di UI. Perawat yang mengabdi dari pustu , puskesmas hingga RS.
Pernah buka dan jadi dosen pada D3 Keperawatan di RSUD Larantuka, supervisor pada RSUD Larantuka, dan kabid di Dinkes Flotim. Ingat, urus rumah sakit itu butuh Otak dan Onet. Orang Nagi bilang harus punya Ati Pero, seperti Orang Samaria yang Baik Hati.
Semua paparan sudah ditampilkan secara gamblang, tanpa tedeng aling-aling. Tidak perlu orang di luar Flotim yang dipanggil untuk urus manajemen kesehatan dan rumah sakit. Saatnya berbenah, saatnya kita berubah, mumpung kita masih diberi waktu.
Foto Ilustrasi dari omnicare.co.id
Leave a Reply