Eposdigi.com – Komika asal Flores Timur Abdur Arsyad dalam lawakannya mengatakan bahwa sepak bola di NTT biasanya baru selesai dimainkan ketika pemain sudah ‘baku pukul’ atau penonton rusuh. Benar, kenyataannya kerap seperti itu.
Pun belakangan ini, sorotan terhadap sepak bola di Nusa Tenggara Timur (NTT) dipenuhi dengan berita kerusuhan antar penonton, bahkan tayang di salah satu stasiun televisi nasional.
Kejadian di Pulau Adonara, tepatnya di Desa Riangduli ini jelas bukan sesuatu yang patut untuk dibanggakan. Bentrok antar pemain, kisruh di tengah lapangan, rebut antar penonton apakah benar menunjukan wajah sepak bola Flores Timur, bahkan NTT?
Baca Juga:
Sejarah Sepak Bola Indonesia Telah Tercipta, Kini Saatnya Melangkah Lebih Jauh
Memilih judul di atas, memang sungguh provokatif. Sebab seharusnya sepakbola NTT tidak seram-seram amat. Karena bila ditelusuri lebih dalam, sepak bola di NTT menyimpan potensi besar dan sejumlah prestasi membanggakan yang kerap terabaikan, tertutup oleh pemberitaan negatif semata.
Beberapa turnamen lokal di NTT seperti Turnamen El Tari Memorial Cup, Piala Gubernur, hingga kompetisi antar kabupaten mampu menjadi wadah pembinaan dan pengembangan bakat pemain muda. Turnamen-turnamen ini bahkan menjadi ajang pemantauan bagi pencari bakat dari klub-klub besar nasional.
Meskipun infrastruktur sepakbola NTT masih jauh dari Ideal, namun beberapa nama yang boleh disebutkan bersinar di dunia sepakbola tanah air, seperti Yabes Roni Malaifani (Alor), Muhammad Kasim Botan (Adonara), dan ada beberapa nama lain yang tampil di Liga 3 dan Liga 2 Nasional.
Baca Juga:
Bima Sakti: Akhlak Pemain Sepak Bola Sangat Penting, Setelah itu Baru Ilmu Bermain Sepak Bola
Tidak hanya pemainnya, beberapa klub sepakbola NTT kerap menjadi bagian dari kasta sepakbola nasional, misalnya PSN Ngada yang merupakan Juara Liga 3 zona NTT, seringkali berangkat sebagai wakil NTT ke kasta sepakbola nasional. PSN Ngada dikenal karena basis suporter fanatik dan pembinaan terhadap pemain lokal.
Lebih dari sekadar ajang olahraga, turnamen sepak bola lokal di NTT seharusnya menjadi bagian dari budaya dan hal positif yang bisa dibanggakan, sama seperti kita bangga bahwa NTT memiliki nama lain yaitu Nusa Toleransi Tinggi.
Tidak berlebihan jika merindukan sepakbola di NTT tidak hanya sebagai ajang olahraga semata. Sepakbola harusnya menjadi media untuk mendorong tumbuh kembangnya UMKM seperti pedagang makanan dan minuman, meraup keuntungan berlipat ganda saat pertandingan digelar. Lapangan-lapangan yang semula sepi berubah menjadi pusat keramaian yang menggerakkan ekonomi rakyat kecil.
Baca Juga:
Pelatih Sepak Bola Dipecat Karena Timnya Menang Terlalu Banyak
Warung kopi dadakan, penjaja gorengan, hingga penyedia jasa parkir turut merasakan berkah dari kegiatan ini. Hal ini menunjukkan bahwa turnamen lokal tidak hanya membawa semangat sportivitas, tetapi juga menyuburkan ekosistem ekonomi dan usaha kecil
Masyarakat NTT suka keramaian. Suka pesta. Karena itu sepakbola yang ramai seharusnya juga menjadi bagian dari bagaimana masyarakat NTT merayakan kegembiraan. Sepakbola bisa menjadi ajang wisata yang menyenangkan.
Pikiran negatif terhadap sepak bola NTT akibat insiden kerusuhan tidak seharusnya menjadi label permanen. Justru inilah saatnya berbagai pihak pemerintah daerah, federasi sepak bola, tokoh masyarakat, dan pecinta bola bersatu memperbaiki sistem pembinaan, tata kelola pertandingan, serta edukasi suporter dengan tujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
Baca Juga:
Dengan pendekatan yang lebih humanis, sepak bola di NTT dapat menjadi sarana pemersatu dan kebanggaan daerah. Peningkatan keamanan, dan pembinaan mental pemain serta suporter adalah langkah tepat yang bisa diambil.
Sudah saatnya kita berhenti melihat sepak bola di NTT hanya dari sisi kerusuhan dan keributan. Dibalik semua itu, ada semangat, bakat, dan kerja keras yang layak mendapat dukungan.
Mari kita bangun ekosistem sepak bola yang sehat di NTT dari suporter yang dewasa, penyelenggara yang profesional, hingga pembinaan pemain muda yang berkelanjutan. Karena sepakbola bukan hanya tentang menang dan kalah, tapi juga tentang membangun karakter, kebanggaan daerah, dan masa depan anak-anak NTT.
Rate Riantoby adalah Nama Pena dari Haiqal Al Fahran Rate Iken / Foto merupakan kreasi dari penulis dengan bantuan AI untuk eposdigi.com
Leave a Reply