Eposdigi.com – Ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan. Generasi muda bukan musuh kebudayaan. Mereka adalah pewaris sekaligus calon pengembangnya.
Jika mereka tidak tertarik pada budaya lokal, kita tidak boleh buru-buru menuduh mereka tidak memiliki rasa cinta terhadap daerahnya. Kita perlu mendengarkan mereka.
Apa yang membuat mereka merasa bahasa daerah tidak membanggakan? Mengapa mereka menganggap pakaian tradisional tidak sesuai dengan kehidupan modern?
Apa yang membuat makanan lokal kurang menarik bagi mereka? Bagaimana mereka ingin mempelajari sejarah dan tradisi kampungnya?Pertanyaan-pertanyaan itu perlu dijawab melalui dialog, bukan melalui kemarahan.
Baca Juga:
Eposdigi.com – Ada satu persoalan mendasar yang perlu kita benahi. Kita sering meng
Mungkin ada cara pewarisan budaya yang terlalu menekankan kewajiban tanpa memberikan pemahaman. Mungkin ruang ekspresi bagi anak muda masih terbatas. Mungkin kita belum mampu menghubungkan kebudayaan dengan kebutuhan, kreativitas, dan cita-cita mereka.
Karena itu, kita perlu mempertemukan pengetahuan generasi tua dengan kreativitas generasi muda. Generasi tua memiliki pengalaman, ingatan, dan pengetahuan budaya. Generasi muda memiliki energi, kreativitas, dan penguasaan teknologi.
Jika keduanya dipertemukan, kebudayaan Lembata tidak hanya dapat bertahan, tetapi juga berkembang.
Yang tua tidak perlu takut bahwa setiap perubahan akan merusak tradisi. Yang muda tidak perlu merasa bahwa segala sesuatu dari masa lalu sudah tidak relevan. Keduanya perlu duduk bersama untuk menemukan jalan yang menjaga nilai budaya sekaligus membuka ruang bagi pembaruan.
Baca Juga:
Menjadi Manusia Beragama Dan Manusia Berbudaya (Ber-Adat) Adonara
Di Usia Ke-27 Lembata Perlu Membangun Masa Depan Tanpa Kehilangan Jati Diri
Dua puluh tujuh tahun perjalanan Kabupaten Lembata seharusnya menjadi momentum untuk memperluas cara kita memahami pembangunan.
Pembangunan tidak cukup hanya membuat masyarakat semakin modern. Pembangunan juga harus membuat masyarakat semakin mengenal, menghargai, dan mengembangkan identitasnya.
Kita tentu ingin anak-anak Lembata menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional, serta memiliki kesempatan hidup yang lebih baik.
Namun, kita juga ingin mereka tetap mengenal bahasa daerahnya, memahami sejarah kampungnya, menghargai orang tua dan tetua adat, mengenal makanan tradisionalnya, serta memahami nilai-nilai budaya yang membentuk masyarakatnya.
Kita ingin mereka dapat berdiri di tengah dunia tanpa harus merasa malu menjadi orang Lembata. Sebab, kemajuan tidak mengharuskan seseorang meninggalkan akar budayanya.
Baca Juga:
Justru, kebudayaan yang dipahami dengan baik dapat menjadi sumber kreativitas, identitas, solidaritas sosial, dan kekuatan untuk menghadapi perubahan.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bagi kita bukanlah apakah generasi muda masih mau mengikuti tradisi orang tua mereka.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: Sudahkah kita menjadikan kebudayaan Lembata sebagai warisan pengetahuan yang bermakna, membanggakan, dan relevan bagi kehidupan generasi muda?
Jika belum, maka pekerjaan rumah itu ada pada kita semua.
Pemerintah perlu membangun kebijakan. Sekolah perlu mengembangkan pembelajaran. Keluarga perlu menghidupkan pewarisan budaya. Tokoh adat perlu membagikan pengetahuan.
Perpustakaan perlu menjaga ingatan kolektif. Pelaku usaha perlu mengembangkan potensi ekonomi budaya. Media perlu memberikan ruang. Dan generasi muda perlu dilibatkan sebagai mitra dalam membangun kebudayaan.
Baca Juga:
Mari kita berhenti hanya mengeluhkan generasi muda yang mulai menjauh dari budayanya.
Mari kita mulai menciptakan lingkungan yang membuat mereka bangga untuk mengenal, mempelajari, dan mengembangkan budaya Lembata.
Sebab, budaya yang tidak diwariskan akan kehilangan penerusnya, budaya yang tidak direvitalisasi akan kehilangan relevansinya, dan budaya yang tidak diberi ruang dalam pembangunan akan semakin terpinggirkan.
Selamat Hari Ulang Tahun ke-2 Kabupaten Lembata
Semoga Lembata terus bertumbuh menjadi daerah yang maju dalam pembangunan, kuat dalam identitas, kaya dalam pengetahuan lokal, dan bangga terhadap kebudayaannya.
Membangun Lembata bukan hanya membangun wilayahnya, tetapi juga memperkuat manusia dan kebudayaan yang memberi wilayah itu makna. Taan Tou, Lembata maju, budaya tetap hidup!
Leave a Reply