Triadik Kepemimpinan Lewo: Membaca Kembali Keteraturan Hidup Orang Adonara – Sebuah Konsep Awal Desa Adat / Lewo

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Apakah Rera Wulan Alapen, Lewotana Alapen dan Mehene Lewo sesungguhnya merupakan tiga unsur dalam satu sistem kepemimpinan Lewo?

Saya sedang mencoba memahami kembali sesuatu yang sebenarnya sudah lama hidup dalam masyarakat Adonara, tetapi mungkin belum banyak kita rumuskan secara konseptual.

Dalam setiap Lewo, kita mengenal adanya Lewotana Alapen, Rera Wulan Alapen dan Mehene Lewo. Ketiganya mempunyai fungsi yang berbeda. Namun, apakah perbedaan itu sesungguhnya merupakan pembagian kekuasaan, atau justru pembagian mandat dalam satu sistem keteraturan Lewo?

Dari diskusi dan pengalaman yang sedang saya dalami, saya melihat kemungkinan yang kedua yaitu pembagian mandat.

  1. Rera Wulan Tana Ekan : Sumber Keteraturan

Dalam pandangan kosmologis Lamaholot, Rera Wulan Tana Ekan menempati posisi yang sangat penting sebagai Yang Ilahi dan sumber kehidupan.

Dari sinilah kita dapat memahami bahwa kehidupan manusia tidak berdiri sendiri. Manusia mempunyai hubungan dengan Yang Ilahi, leluhur, sesama manusia dan alam.

Dalam kerangka pemikiran KODA yang sedang saya kembangkan, Rera Wulan Tana Ekan merupakan sumber otoritas tertinggi, sedangkan KODA menjadi pedoman yang mengatur bagaimana manusia menjalani kehidupannya.

Maka keteraturan Lewo bukan semata-mata hasil keputusan manusia. Ada dimensi kosmologis di dalamnya.

  1. Rera Wukan Apalen: Menjaga Dimensi Sakral

Di dalam Lewo terdapat orang atau unsur adat yang dikenal sebagai Rera Wulan Alapen.

Salah satu fungsi yang saya dengar dan sedang saya dalami adalah melakukan ritual pemulihan atau penghapusan kesalahan akibat salah kata dan salah tindakan—baik kesalahan kepada Rera Wulan Tana Ekan, leluhur, sesama maupun alam.

Kalau demikian, Rera Wulan Alapen mempunyai fungsi yang sangat penting: menjaga hubungan sakral dan memulihkan keseimbangan ketika hubungan itu terganggu.

Dengan kata lain, ketika KODA dilanggar, persoalannya tidak selalu berhenti sebagai kesalahan pribadi. Ia dapat menjadi kerusakan relasi. Dan karena itu diperlukan pemulihan.

  1. Lewotana Alapen : Menjaga Dimensi Tanah dan Adat

Di sisi lain ada Lewotana Alapen. Lewo tidak mungkin dipisahkan dari tanah. Tanah bukan hanya tempat tinggal. Di dalamnya terdapat sejarah, leluhur, batas, hak ulayat, identitas dan keberadaan sebuah komunitas.

Karena itu Lewotana Alapen dapat kita pahami sebagai pemegang mandat untuk menjaga dimensi Tana Ekan dalam kehidupan Lewo, terutama yang berkaitan dengan tanah, adat, sejarah dan hak-hak komunitas.

Kalau Rera Wulan Alapen menjaga hubungan dengan dimensi Rera Wulan, maka Lewotana Alapen menjaga hubungan dengan dimensi Tana Ekan. Keduanya tidak berlawanan. Keduanya justru bertemu dalam Rera Wulan Tana Ekan.

  1. Mehene Lewo: Menjaga Kehidupan Ribu Ratu

Kemudian ada Mehene Lewo. Mehene Lewo memiliki tugas sebagai pemimpin Lewo, menjaga dan mengendalikan kehidupan masyarakat atau ribu ratu Lewo.

Di sinilah dimensi kosmologis dan adat diterjemahkan menjadi kehidupan sosial yang konkret. Bagaimana masyarakat hidup bersama? Bagaimana ketertiban dijaga? Bagaimana persoalan masyarakat diselesaikan? Bagaimana keputusan dijalankan?

Bagaimana kehidupan ribu ratu tetap berada dalam keteraturan? Di sinilah Mehene Lewo mempunyai peranan penting. Karena itu, Mehene Lewo bukan sekadar “kepala kampung” dalam pengertian administratif modern. Ia merupakan bagian dari tata kepemimpinan adat Lewo.

  1. Lalu Apa Hubungan Ketiganya;

Di sinilah saya mulai melihat sebuah konsep yang saya sebut sementara:

TRIADIK KEPEMIMPINAN LEWO

RERA WULAN ALAPEN

 → menjaga dimensi sakral dan hubungan dengan Rera Wulan.

LEWOTANA ALAPEN

 → menjaga dimensi tanah, leluhur dan fondasi adat Lewo.

MEHENE LEWO

 → menjaga dan mengatur kehidupan sosial ribu ratu.

Ketiganya berbeda fungsi, tetapi memiliki tujuan yang sama:  MENJAGA KETERATURAN KEHIDUPAN LEWO.

Karena itu, saya kira kita tidak tepat kalau melihatnya dengan pertanyaan: Siapa yang lebih tinggi? Pertanyaan yang lebih tepat mungkin: Siapa memegang mandat apa? Sebab mandat berbeda tidak berarti kedudukan yang harus saling mengalahkan.

6.Koda Sebagai Titik Temu

Di sinilah KODA menjadi sangat penting. KODA bukan hanya kumpulan kata-kata adat.

KODA adalah sistem pengetahuan dan pedoman yang mengatur hubungan manusia dengan: Rera Wulan Tana Ekan — leluhur — tanah — sesama — alam.

Maka kita bisa membayangkan struktur berikut:

RERA WULAN TANA EKAN

 ↓

KODA

 ↓

Rera Wulan Alapen — Lewotana Alapen — Mehene Lewo

 ↓

Ribu Ratu

 ↓

Kehidupan Lewo

Dengan demikian, KODA bukan hanya sesuatu yang dibicarakan. KODA mempunyai penjaga, pelaksana, mekanisme pemulihan dan ruang hidup. Dan ruang hidup itu adalah Lewo.

  1. Bukan Menciptakan Sistem baru.

Yang menarik dari pemikiran ini adalah kita sebenarnya tidak sedang menciptakan sebuah sistem baru. Sistem itu mungkin sudah ada sejak lama. Kita hanya sedang mencoba membaca kembali logika yang hidup di dalamnya.

Mungkin selama ini kita menjalankannya secara turun-temurun, tetapi belum merumuskannya secara konseptual.

Karena itu, saya menyebutnya sementara sebagai:

TRIADIK KEPEMIMPINAN LEWO

Rera Wulan Alapen — dimensi sakral.

Lewotana Alapen — dimensi tanah dan adat.

Mehene Lewo — dimensi sosial kemasyarakatan.

Bukan tiga kekuasaan. Tetapi tiga mandat dalam satu keteraturan Lewo.

  1. Sebuah Pernyataan Untuk Orang Adonara

Saya sengaja menulis ini bukan sebagai kesimpulan. Saya justru ingin membuka ruang persehatian. Apakah struktur seperti ini juga dikenal di Lewo-Lewo lain di Adonara?

Apakah istilah Rera Wulan Alapen, Lewotana Alapen dan Mehene Lewo mempunyai fungsi yang sama? Apakah hubungan ketiganya memang seperti yang saya uraikan? Ataukah setiap Lewo mempunyai variasi dan sejarahnya sendiri?

Dan yang paling penting: Apakah konsep ini dapat membantu kita memahami kembali mengapa terkadang terjadi miss komunikasi peran di setiap lewo.

Saya sangat terbuka terhadap koreksi, pengalaman dan penjelasan dari Lewo mana pun di Adonara. Sebab kalau benar bahwa ini merupakan pola yang hidup di banyak Lewo, mungkin kita sedang menemukan kembali salah satu arsitektur asli tata kehidupan masyarakat Adonara yang selama ini bekerja dalam praktik, tetapi belum banyak kita rumuskan dalam bahasa konseptual.

KODA tidak hanya hidup dalam kata. KODA hidup dalam struktur kehidupan. Dan mungkin Lewo adalah ruang tempat Rera Wulan, Tana Ekan dan manusia dipertemukan dalam satu keteraturan.

Setelah kita memiliki pemahaman yang sama (mungkin dalam istilah berbeda) terkait struktur adat lewo,  baru kita mencari benang merah dengan struktur administrasi pemerintahan desa yang ada sekarang. 

Karena ketika kedua struktur  untuk berjalan dengan baik di masing-masing lewo maka keteraturan hidup masyarakat (ribu ratu) tetap terjaga.  Senareke…….

Foto ilustrasi dibuat dengan bantuan AI

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of