Kasus APB: Ata Diken Lamaholot VS Koruptor

Sospol
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Selain mengenalnya sebagai pejabat politik di Flores Timur, ada jarak cukup lebar pengenalan saya dengan APB sebagai pribadi.

Saya mengikuti sepak terjangnya dalam percaturan politik di Flores Timur dalam berbagai pemberitaan media, terutama lewat media social facebook. Terus terang saya belum pernah bertemu langsung dan bertatap muka dengan APB.

Beberapa waktu lalu, untuk media ini, saya menulis tentang korupsi di Flores Timur, dengan sedikit memaksa diri untuk melihatnya dari kacamata psikologis, dengan menyadari penuh ke-awam-an saya di bidang psikologi bersamaan dengan korupsi.

Setelah ditetapkan sebagai tersangka, APB diberi pakai rompi oranye khas para tersangka kasus korupsi, dan diborgol. Setidaknya banyak rekam gambar digital berseliweran di berbagai media social.

Ada banyak orang menanggapi hal ini. Ada yang sangat kasar, ada yang prihatin. Ada yang menguatkan, banyak yang mencemooh. Barangkali tulisan ini juga sedikit banyak berangkat dari ketidak nyamanan saya sebagai pribadi atas berbagai reaksi dari netizen Flores Timur atas kasus ini.

Baca Juga:

Koda dan Integritas Ata Lamaholot

Pada tulisan ini kita tidak sedang membahas korupsi secara mendalam. Barangkali tulisan ini lebih pada refleksi saya sebagai orang Lamaholot, yang melihat korupsi, kemudian mengaitkannya dengan pemahaman tentang Ata Diken Lamaholot.

Max Boli Sabon (Almarhum), seorang intelektual kelahiran Adonara yang mengajar di Universitas Atma Jaya Jakarta semasa hidupnya membedakan Ata Diken dari Ata Daten. Ata Diken sebagai kata ganti Orang Baik. Ata Daten kebalikannya.

Dalam Bahasa Lamaholot yang diketahui umum oleh para penuturnya, Ata Diken adalah sebutan untuk manusia. Semua manusia, tanpa kecuali. Manusia yang baik, maupun yang sebaliknya.

Orang Lamaholot melihat semua manusia adalah Ata Diken. Dalam alam batin Lamaholot manusia adalah kebaikan itu sendiri. Semua orang pada dasarnya adalah baik. Setiap manusia (ata diken) membawa kebaikan dalam dirinya (Ata Diken).

APB seingat saya adalah pejabat politik tingkat tinggi pertama di Flores Timur yang ditahan atas kasus korupsi. Ia adalah seorang Sarjana Hukum yang juga melanjutkan studi di bidang Hukum hingga tingkat magister. Tidak hanya Magister Hukum, APB juga seorang Magister di bidang Ilmu Pemerintahan. Ia berpendidikan tinggi.  Terutama APB sangat paham hukum. APB adalah seorang pengacara.

Baca Juga:

Membaca Latar Psikologi Tindakan Korupsi di Flores Timur

Selain sebagai Wakil Bupati, APB juga pernah memimpin sebuah organisasi bernama Pemuda Katolik di tingkat Provinsi NTT. Jabatan yang mentereng. Dengan demikian sebagai pribadi APB memiliki pendidikan yang tinggi dan pernah menjabat jabatan tinggi di politik dan pemerintahan, sekaligus organisasi sosial kemasyarakatan.

Sebagai manusia (ata diken) apakah APB telah kehilangan kebaikan dalam dirinya (Ata Diken) karena kasus korupsi yang menjeratnya?

Saya sangat yakin bahwa korupsi adalah kejahatan paling jahat. Merujuk pada akibatnya yang meruntuhkan banyak tatanan kehidupan, korupsi adalah perbuatan kejahatan luar biasa yang harus dihukum dengan hukuman yang paling maksimal.

Kita tidak boleh memaklumi tindakan korupsi dengan pemakluman yang permisif atas nama apapun. Sebagai tindakan korupsi tidak boleh diterima apalagi dibiarkan hidup dan berkembang di dalam masyarakat, sekecil apapun tindakan korupsi itu dilakukan.

Maka, menurut saya, jika nanti terbukti berkekuatan hukum tetap, korupsi yang dilakukan oleh APB harus dikutuk. Tindakan korupsi yang dilakukan oleh ata diken Lamaholot adalah penegasan bahwa ia mengingkari ke-Ata Diken-an yang melekat pada dirinya.

Baca Juga:

Apa Hubungan Korupsi Dana Desa Dengan Pendidikan Politik Warga Desa?

Saya membedakan “ata diken” dari “Ata Diken”. “ata diken” sebagai ganti manusia secara umum. “Ata Diken” sebagai penegasan untuk Orang Baik.

Dalam konteks kasus korupsinya, -dalam pandangan subjektif saya – APB secara sadar menghilangkan Ata Diken dalam dirinya. Namun sebagai pribadi saya tidak memiliki cukup keberanian untuk menghukum APB. Apalagi mempermalukannya.

Saya sedang tidak membela tindakan korupsi, sekecil apapun tindakan itu dilakukan. Saya mengutuk dengan tegas dan keras tindakan korupsi yang dilakukan oleh siapapun.

Akan tetapi saya memberi kesempatan kepada APB sebagai ata diken untuk meraih lagi ke-Ata Diken-an yang melekat padanya sebagai pribadi.

Saya sendiri takut, sedang memainkan standar ganda dalam tulisan ini. Menolak tindakan korupsi tapi memberi kesempatan bagi koruptor untuk menjadi baik lagi.

Sebagai pribadi, entah ini ada manfaatnya atau tidak bagi orang lain, saya merasa bahwa saya harus memberi kesempatan kepada APB untuk menjadi Ata Diken. Korupsi harus dihukum, namun setiap orang masih diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Baca Juga:

Agama Koda: Way of life Atadiken Adonara

Jika nanti berkekuatan hukum tetap, APB harus menerima konsekuensi atas perbuatannya. Namun setelah masa hukumannya usai, APB boleh diberi kesempatan menjadi Ata Diken Lamaholot seutuhnya.

Dengan latar belakang pendidikannya saya percaya APB pasti menemukan jalan-jalan pengabdian kemanusiaan yang baru sebagai penegasan bahwa ia Ata Diken.

Saya membatasi diri untuk berbaik sangka, namun tidak memberi diri saya kesempatan untuk menerima begitu saja jika pelaku korupsi – seorang Koruptor – kembali mengemban tanggung jawab public, apalagi tanggung jawab politik.

Koruptor harus sungguh ‘tahu diri’ bahwa tindakan korupsi yang dilakukannya telah menutup pintu serapat-rapatnya. Tidak ada jendela atau bahkan sekedar lubang angin untuk dirinya kembali pada jabatan publik. Jabatan publik apapun. Baik kultural kemasyarakatan, apalagi struktural pemerintahan.

Saya pikir, kita harus tegas pada pilihan yang demikian ini.

Foto dari media sosial

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of