Ancaman Serius Flu Babi Afrika

Bisnis
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Dalam pencarian daring untuk tulisan ini, saya menemukan satu berita yang diwartakan oleh tempo.co, 14 Oktober 2019, lalu. Flu Babi Afrika (African Swine Fever-ASF), dalam pemberitaan tempo.co tersebut, sedang mewabah di negara tetangga Timor Leste.

Kementerian Pertanian mengambil langkah cepat. Melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) telah mengeluarkan status waspada dini atas mewabahnya ASF. Upaya pengawasan dan pencegahan masuknya virus ini terus dilakukan. Pintu-pintu perbatasan NTT – Timor Leste, diawasi ketat.

Namun, berbagai upaya tersebut tidak dapat mencegah mewabahnya flu yang menyerang babi tersebut. Mediaindonesia.com menulis bahwa hingga 17 Juli 2020, Flu Babi Afrika telah menyebakan kematian bagi 23.568 ekor babi di NTT.

Hari-hari ini, berbagai laman media social di Flores Timur berisi  cerita kematian babi akibat Flu Babi Afrika. Laman audiens.id hari ini (21.01.2021) menyebutkan bahwa sudah lebih dari 3000 ekor babi di Flores Timur mati akibat ASF.

Ketika terserang flu ini, suhu tubuh babi akan meningkat tinggi, babi kehilangan nafsu makan. Gejala lain yang juga timbul muntah, diare, kesulitan bernafas hingga kesulitan berdiri.

Bahkan, karena kuatnya virus ini, hampir 100 % babi yang terserang berakhir dengan kematian hanya dalam jangka waktu 20 hari sejak terinfeksi.

Bagaimana Flu Babi Afrika ini Menyebar?

Flu Babi Afrika atau African Swine Fever menyebar melalui kontak langsung oleh babi yang membawa virus dengan babi sehat. Tidak hanya itu, semua makanan olahan untuk manusia yang mengandung Flu Babi Afrika bisa menjadi pembawa virus, jika kemudian makanan olahan tersebut termakan oleh babi sehat.

Atau lewat kontak dengan benda mati yang kebetulan memiliki kontak dengan Flu Babi Afrika ini. Virus ASF bisa melekat dimana saja; kendaraan, pakaian, sepatu dan apa saja benda mati lainnya. Ketika babi sehat melakukan kontak erat dengan benda mati yang sebelumnya didiami virus ini, maka dapat menyebabkan penularan.

Ayo Baca Juga: Flores Timur Sigap hadapi Bencana?

Kutu, caplak atau serangga pengisap darah lainnya juga diyakini menjadi penyebab semakin menularnya virus ini. Mereka dapat menjadi perantara penularan dari babi terinfeksi pada babi sehat lainnya lewat gigitan.

Butuh Langkah Antisipasif

Penyebaran virus ini yang begitu cepat bisa jadi karena bayak dari kita tidak mengetahui dengan memadai tentatg  virus ini. Kekurangan itu membuat banyak orang kehilangan kepekaan. Belakangan ini banyak tersebar foto bangkai ternak babi yang mengambang di laut di Flores Timur.

Sosialisasi tentang pencegahan dan penanganan terhadap babi yang mati akibat virus Flu Babi Afrika ini harus segera dilakukan.

Hal hal semisal memisahkan babi yang terinfeksi dari babi sehat dikandang yang terpisah, menjaga kebersihan kandang, tidak memberi makan dengan makanan olahan, menyemprotkan kandang babi dengan desinfektan adalah langkah antisipasif yang harus diketahui masyarakat luas.

Pun bagaimnana cara menangani ternak babi yang mati. Bagaiman menyiapkan kubur yang layak, berapa kedalaman tanah yang harus digali dan lain-lain perlu disebar luaskan kepada masyarakat banyak.

Mengapa butuh segera diantisipasi?

Bagi masyarakat Flores Timur, babi bukan hanya sekedar hewaan paraan. Lebih dari itu. Babi (dan juga kambing) adalah bagian dari tradisi adat masyarakat Lamaholot. Pada saat yang sama babi adalah ekonomi masyarakat.

Kematian babi dalam jumlah yang besar di Flores Timur dan NTT umumnya, seperti yang diberitakan oleh laman audiens.id pasti besar dampaknya terhadap ekonomi masyarakat, juga berarti masyarakat yang terdampak pun besar jumlahnya.

Ribuan babi yang mati karena Flu Babi Afrika atau African Swine Fever-ASF, ini juga memberi gambaran bahwa ada ribuan rumah tangga yang kehilangan pendapatan potensial milinya.

Matinya seekor babi seharga rata-rata Rp3 juta berarti juga bahwa masyarakat kehilangan pendapatan sejumlah tersebut. Para peternak yang hanya kuat memelihara 1 hingga 2 ekor babi adalah rumah tangga- rumah tangga kecil, maka matinya 1 ekor babi milik mereka jelas kehilangan besar.

Penanganan Flu Babi Afrika sesegera mungkin, tentu adalah jalan untuk mencegah semakin terpuruknya ekonomi masyarakat NTT dan Flores Timur yang terlanjur tumbang karena Covid-19.

Masyarakat Welo – Ds Painapang – Kec Lewolema – Flores Timur – NTT, sedang menurunkan bangkai ternak babi yang mati karena Flu Babi Afrika (ASF) untuk dikuburkan, Foto tangkapan layar video dari WAG Epu Orin Adonara.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of