Krisis Multidimensi Karena Covid-19, Ujian bagi Ketahanan Keluarga dan Sekolah Kita

Budaya
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Pandemi Covid-19 memicu krisis multidimensi dengan banyak wajah. Ia tidak hanya menguji tetapi juga membongkar dan menghancurkan tatanan.

Selama pandemi Covid-19, tidak ada satupun tatanan yang terbebas dari terpaan krisis multidimensi, dengan dampak yang berbeda-beda. Bagi tatanan yang dibangun dengan proses yang benar, tatanan tersebut memiliki landasan yang kokoh.

Oleh karena itu, krisis multidimensi sekalipun tidak meluluh-lantakkan tatanan tersebut. Krisis bisa jadi malah memperkuat sendi-sendi tatanan, sehingga tatanan tersebut menjelma menjadi lebih kokoh justru karena diterpa krisis multidimensi.

Baca Juga : Seorang Ayah di Garut Nekat Mencuri HP untuk Anaknya, Apa Tindakan Jaksa?

Sedangkan jika tatanan tidak dibangun dengan landasan yang kuat, krisis multidimensi menguji dan meluluh-lantakkan sendi-sendi tatanan, karena memang dari awal tatanan tersebut tidak dibangun dengan landasan yang kokoh.

Itulah salah satu pelajaran yang kita tarik dari krisis multidimensi yang sedang kita alami.

Bagian berikut dari tulisan ini akan mencoba membuktikan kebenaran dari kesimpulan di atas dengan mengangkat dua situasi menjadi contoh soal.

Tatanan dengan landasan yang kokoh

Cerita ini saya kutip dari Inibaru.id, terkait bagaimana tiga keluarga ini menghadapi krisis yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19, ada Ibu Umi Kholifa, Ibu Herni dengan dua anaknya Ibu Linda dan para suami mereka.

Anak-anak dari ketiga keluarga ini kebetulan bersekolah pada sekolah yang sama. Ketika anak-anak mereka harus menjalani learning from home (LFH), pada awalnya ketiga Ibu itu merasa keberatan karena tugas yang diberikan guru banyak dan sulit diselesaikan anak-anak mereka. Sementara, kompetensi mereka tidak sama dengan kompetensi guru.

Atas inisiatif mereka, kondisi ini dikomunikasikan dengan sekolah. Bahwa tugas untuk anak-anak terlalu berat dan bahwa hendaknya proses belajar tidak begitu saja dipindahkan dari sekolah ke rumah. Karena jika belajar dipindahkan dari sekolah ke rumah, pasti orang tua angkat tangan.

Penjelasan sekolah kemudian membuka mata mereka bahwa ini bukan situasi yang dikehendaki oleh sekolah. Sekolah sama tidak siapnya dengan orang tua. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan komunikasi yang baik, sehingga membentuk kerjasama yang baik.

Baca Juga : Mendorong Lahirnya Undang-Undang Ketahanan Keluarga

Tetapi sekolah kemudiam melakukan penyesuaian-penyesuaian. Sebagai mitra sekolah, orang tua juga berusaha membantu anak mereka masing-masing, sambil terus berkomunikasi sebaik-baiknya dengan sekolah.

Penyesuaian sekolah yang dirasa membantu bagi orangtua misalnya, pengurangan beban tugas yang bersifat konten, diganti dengan mengerjakan tugas life skills. Salah satu di antaranya adalah, anak membantu orang tua melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci dan membersihkan rumah.

Mereka kemudian menyadari bahwa situasi learning from home (LFH), ternyata membawa banyak berkah. Anak menjadi lebih sering berada di rumah, dan menjadi lebih dekat dengan orang tua.

Pada saat bersama-sama berada di rumah, suami istri jadi berbagi tugas antara membantu belajar anak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Suami dan istri jadi saling peduli satu sama lain. Tampaknya tiga keluarga ini dapat menghadapi krisis ini dengan baik.

Tatanan dengan landasan yang rapuh

Ini cerita memilukan yang dialami oleh bocah perempuan kelas I SD, usia 8 tahun, dari Kota Tangerang, Banten. Ia tewas mengenaskan di tangan ibu kandungnya sendiri, yang berinisial Lh (26 tahun).

Dari hasil pemeriksaan polisi, seperti dilansir Kompas.com, kasus penganiayaan yang berujung pada kematian korban ini, terjadi pada tanggal 26 Agustus 2020.

Peristiwa tragis tersebut terjadi di rumah kontrakan keluarga ini, yang berlokasi di Kecamatan Larangan, Kota Tangerang, Banten.

Peristiwa naas tersebut terjadi saat anak sedang menyelesaikan tugas belajar online dari sekolah dan dibantu oleh ibunya.

Baca Juga : Tiga Model Sinergi Orang Tua dan Guru, Dalam Pembelajaran Daring

Sang ibu emosi, lantaran menurutnya anaknya tidak kunjung menangkap penjelasan pelajaran yang ia sampaikan. Pelaku menganiaya korban dengan mencubit, memukul dengan tangan kosong, hingga menggunakan gagang sapu.

Akibat penganiayaan tersebut, korban lemas dan jatuh tersungkur, namun masih terus dianiaya oleh ibunya karena emosi. Bahkan masih dipukul berulang kali pada kepala bagian belakang.

Pelaku berhenti setelah penganiayaan tersebut diketahui dan ia dimarahi oleh sang suami IS (27 tahun). Korban yang sudah lemas dan mengalami sesak nafas, kemudian dibawa keluar rumah dengan tujuan agar bisa mendapat udara segar dan merasa lebih baik. Namun korban malah meninggal dunia.

Kasus mirip ini dalam kenyataan banyak terjadi, dengan variasi dan kadar berbeda-beda.

Moral Cerita

Dua cerita, pada dua bagian sebelumnya menggambarkan dua kelompok ibu menghadapi krisis yang sama namun denga cara yang sangat berbeda, dengan hasil yang juga sangat berbeda.

Kelompok ibu yang pertama tampak berasal dari keluarga kelas menengah, mungkin menengah atas. Komunikasi dengan sekolah sangat baik, juga komunikasi di antara mereka.

Sekolah dapat memberi respon yang baik, orang tua juga mengetahui apa yang harus mereka lakukan dan sinergi dapat terjadi antara sesama orang tua dan antara orang tua dengan sekolah. Dan yang paling penting, ada sinergi yang baik antara suami dan istri.

Ini yang saya sebut di awal tulisan ini. Keluarga-keluarga ini adalah tatanan yang sendi-sendinya dibangun dengan benar dan karena itu, kokoh ketika menghadapi krisis. Krisis tidak meluluh-lantakkan, malahan memperkuat sendi-sendi tatanan.

Sedangkan pada cerita yang kedua, tampaknya sang ibu berasal dari keluarga prasejahtera. Mereka memiliki anak kembar usia 8 tahun, sementara Ibu Lh berusia 26 tahun dan suaminya berusia 27 tahun.

Baca Juga : Pelajaran Penting Dari Angelina Jolie; Orang Tua Hanya Perlu Jujur

Dari usia pasangan ini dan usia anak mereka, saya menduga pasangan ini adalah pasangan yang menikah di usia yang masih sangat muda. Jika sekarang Lh berusia 26 tahun dan anaknya berusia 8 tahun, maka diperkirakan pasangan ini menikah ketika Lh berusia 17 tahun. Pada saat itu, Lh masih duduk di bangku SMA.

Lh mungkin hamil di luar nikah, dengan tingkat pendidikan yang rendah, dan tanpa program persiapan pra-nikah sama sekali. Ini yang saya maksud dengan keluarga sebagai tatanan yang sendi-sendinya sangat rapuh.

Keluarga seperti ini, tanpa krisis saja, hidup mereka sudah sangat berat, apalagi denga krisis. Krisis multidimensi seperti sekarang bagi mereka akan berdampak tidak hanya meluluh-lantakkan, bahkan bisa menghancurkan sendi-sendi hidup keluarga.

Kasus ini mengingatkan kita akan salah satu inisiatif Lukman Hakim Syarifudin, Menteri Agama periode pertama kabinet Jokowi, bekerja sama dengan NU dan Muhammadiyah, yang telah merekrut ribuan pengajar untuk menyelenggarakan pendidikan pranikah bagi calon pengantin muslim. Dikemanakan kah tindak lanjut program bagus seperti itu oleh pemerintahan Presiden Jokowi di periode ke 2?

Krisis ini membuat kita belajar bahwa kita perlu menata dan membenahi semua sendi-sendi pranata penting kita, terutama keluarga dan sekolah-sekolah kita. Karena di sanalah tempat menumbuhkan para pewaris negeri ini.

Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis / Foto : stmitee.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of