Corona, Lembaga Eijkman dan Penyakit Endemik di Indonesia

Nasional
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Hari-hari ini Corona selalu menjadi topic yang dibicarakan baik di dunia nyata maupun di laman-laman dunia maya.

Bagaimana tidak, Pandemi COVID-19 sejak ditemukan gelaja pada akhir tahun 2019 hingga 27 Maret 2020 Pkl 16:30,  hanya dalam waktu 3 bulan, telah menginfeksi 462.684 di seluruh dunia. Virus SARS-Cov-2 telah menyebar hingga 198 negara dan menyebabkan 20.834 jiwa meninggal dunia (infeksiemerging.kemkes.go.id)

Di Indonesia, sejak diumumkan awal bulan Maret lalu, hingga saat ini sudah ada 1.046 orang terkonfirmasi positif COVID-19. Kecepatan menyebarnya mencengangkan.

Corona yang merupakan pandemik global sama berbahayanya dengan banyak penyakit endemik lain di Indonesia, jika dilihat dari jumlah korban yang terinfeksi maupun jumlah kematian yang diakibatkannya.

Tubercolosis misalnya. Kompas.com (13/03/2020) menulis bahwa setiap 30 detik satu orang di Indonesia tertulari Tubercolosis. Setiap jam, tuberculosis menyebabkan rata-rata 13 orang meninggal dunia. Dalam perkiraan, setiap tahun ada 842.000 kasus TBC baru, ditemukan di Indonesia.

Baca Juga: Selain Pandemi Corona, Juga ada Banyak Penyakit Endemik lain di Indonesia

Indonesia adalah negara dengan jumlah kasus TBC tertinggi nomor 3 di dunia. Prevalensinya mencapai 142 setiap 100.000 penduduk.

Selain Tubercolosis, Indonesia jadi langganan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Malaria misalnya. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopeles ini, pada tahun 2011 lalu mengakibatkan 11.000 kematian. (detik.com-13/04/2012)

Walaupun sudah signifikan menurun, namun menurut data tahun 2018 masih ada 220.000 kasus malaria terjadi di Indonesia. Penurunan ini signifikan jika dibanding kasus tahun 2010 lalu, sebesar 465.000 kasus (liputan6.com – 28/04/2019).

Tidak hanya nyamuk jenis Anopeles yang menjadi penyebab Malaria, nyamuk Aedes aegepty dan Aedes albopictus yang membawa virus dengue menyebabkan mereka yang digitnya menderita Demam Berdarah Dengue (DBD).

Dalam 5 tahun terakhir, dari tahun 2014 hingga 2019, DBD setidaknya telah menginfeksi lebih dari 339 ribu orang, mengakibatkan 2.815 orang meninggal dunia (data diolah dari eposdigi.com 26/03/2020).

Awal tahun ini saja, seperti dilansir indozon.id (11/03/2020) virus dengue mengakibatkan 16.099 menderita DBD, 100 orang diantaranya meninggal dunia.

Tidak hanya DBD dan Malaria, masih ada penyakit kaki gajah dengan jumlah korban tidak sedikit di Indonesia yang juga  ditularkan melalui gigitan nyamuk.

Selain karena gigitan nyamuk, penyakit menular endemik lain yang karena penyebaran dan jumlah korban yang diakibatkannya sering ditetapkan sebagia Kejadian Luar biasa di beberapa daerah Indonesia. Seperti kasus difteri.

Juga ada HIV/AIDS. Hingga Juni 2019, ada 349.883 kasus positif HIV/AIDS di Indonesia. yang menyebar merata di seluruh Indonesia (infopublik.id, 03/12/2019).

Baca Juga: Corona dan Kemanusiaan Kita

Angka-angka statistik ini bukan bermaksud membandingkan mana yang paling banyak memakan korban, entah itu pandemi global ataupun endemi lokal di Indonesia. Angka-angka ini adalah gambaran kerawanan penyebaran penyakit menular di Indonesia.

Besaran angka harus diikuti dengan tingkat kewaspadaan. Kemudian melahirkan sikap cegah dan tangkal. Maka lembaga negara seperti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) harus diberi peran sentral sebagai bagian dari upaya cegah tangkal itu.

Adalah seorang dokter tentara pada Angkatan Darat Hindia Belanda bernama Christian Eijkman, lewat penelitiannya tentang pandemi beri-beri di Hindia Belanda saat itu, menginisiasi dibangunnya Laboratorium voor Pathologische Anatomie en Bacteriologie di Batavia.

Pada tahun 1888, Christian Eijkman dipercaya menjadi kepala laboratorium penelitian patologi dan bakteri yang dididirikannya sekaligus menjadi direktur Sekolah Dokter Jawa. Ia meneruskan riset tentang beri-beri yang saat itu sedang menjadi pandemi di Hindia Belanda (tirto.id 5/11/2019)

Risetnya ini mengarah pada konsep penemuan vitramin, yang kemudian mengantarnya menerima Nobel bidang fisiologi atau kedokteran pada tahun 1929.

Pada puncaknya laboratorium ini menjadi pusat pengobatan penyakit tropis hingga masa kemerdekaan Indonesia.

Sempat ditutup pada masa revolusi tahun 1960-an, lembaga ini dibuka kembali pada Juli 1992 dan mulai beroprasi pada April 1993, walaupun baru diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 19 September 1995 dengan nama Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) (kompas.com 17/03/2020).

Lembaga yang menjadi bagian dari Kementerian Riset dan Teknologi ini sudah saat nya mengambil peran sentral yang fokus pada penelitian tentang berbagai penyakit endemik di Indonesia.

LBM Eijkman telah mampu menjadi bagian dan sejajar dengan lembaga riset global lain dalam upaya untuk menghadirkan vaksin untuk COVID-19.

Maka sangat terbuka pelungan bagi lembaga ini untuk mencegah-tangkal berbagai penyakit endemik yang penyebarannya telah berlangsung lama dan berulang-ulang terjadi hampir setiap tahun di Indonesia. (Foto: netralnews.com)

Sebarkan Artikel Ini:

1
Leave a Reply

avatar
1 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga :Corona, Lembaga Eijkman dan Penyakit Endemik di Indonesia […]