Stunting, ‘SoLor’, dan “Syuting” di Flores Timur, Redefinisi poin-poin Menggempur Stunting. (Bagian pertama dari dua tulisan)

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Stunting menjadi persoalan besar bagi negeri ini. Bagaimana tidak, Indonesia memiliki 39% atau hampir 9 juta anak mengalami stunting.  Dimana prevalensi stunting menempatkan Indonesia pada peringat lima dunia. Tidak kalah mengejutkan, di Flores Timur , berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Flotim, hingga April 2019, dari 20 ribu bayi, kurang lebih 7 ribu bayi diantaranya mengalami stunting (mediaindonesia.com – 05/07/2019). Padahal 6 bulan sebelumnya sudah ada deklarasi menggempur stunting di Flores Timur.

Butuh data mengenai stunting per November 2018 untuk kemudian dibandingkan dengan kondisi hari ini, namun angka 7 ribu bayi stunting per April 2019, menunjukan bahwa menggempur stunting belum menunjukan hasil maksimal. Apakah ada yang salah dengan program menggempur stunting di Flores Timur?

Data-data ini menunjukan sesuatu yang teramat serius. Dari poin-poin isi deklarasi menggempur stunting di Flores Timur, 16 November 2018 lalu, sebenarnya telah menunjukan harapan baik . Harapan baik ini tentu harus diikuti dengan komitmen semua pihak untuk secara serius – sangat serius – menggempur stunting.

Harus ada keberanian untuk merevitalisasi poin-poin menggempur stunting. Memodifikasi pelaksanaan dilapangan agar menggempur stunting tidak menjadi sekedar eforia formalitas acara deklarasi semata.  Butuh keberanian untuk memberi penekanan lebih pada redaksional poin-poin mengempur stunting di Flores Timur.

“Menjadikan Pembelajaran mengenai sebab akibat dan (poin 2) memerangi  sikap tidak peduli terhadap stunting (poin 1) sebagai gerakan bersama (poin 3) untuk menurunkan prosentase stunting (4) menuju Flores Timur bebas Stunting tahun 2023 (poin 5).

Merubah urutan poin-poin redaksional deklarasi stunting ini berarti memberi penekanan pada poin sesuai urutan.

Pembelajaran tentang stunting harus masuk dan mempengaruhi sikap dan tindakan semua orang Flores Timur. Maka segala program, kebijakan, anggaran, dan teknis di lapangan pertama-tama harus focus untuk merubah mindset masyarakat tentang stunting. Masyarakat harus mengetahui, dan memahami tentang stunting secara lebih memadai. Apa yang menyebabkan, bagaimana stunting mempengaruhi kehidupan seseorang dan bagaimana tindakan mencegah dan mengatasi stunting harus diketahui oleh semua masyarakat.

Semua sepakat bahwa anak adalah pewaris masa depan negeri ini. Pertumbuhan dan perkembangan mereka menentukan masa depan negeri ini kelak. Stunting hanyalah salah satu alat ukur tumbuh kembang bayi. Menggempur stunting harus secara simultan dengan memperhatikan semua aspek tumbuh kembang anak.

Anak yang tinggi badannya lebih pendek dari tinggi badan standart usia anak tersebut tentu dipengaruhi oleh banyak factor. Buletin Stunting yang dipublikasikan oleh Kementrian Kesehatan, Semester 1- 2018, menulis bahwa balita stunting termasuk masalah gizi kronik. Disebabkan oleh banyak factor. Diantaranya kondisi social ekonomi keluarga,  kondisi gizi ibu – terutama pada masa kehamilan, kurangnya asupan gizi pada bayi, juga oleh penyakit atau sakit yang diderita anak tersebut.

Kondisi social ekonomi keluarga ini menyangkut bagaimana sebuah keluarga memandang anak sebagai bagian dari keluarga yang memiliki harkat dan martabat sama seperti orang dewasa. Hal ini berkaitan erat dengan pola pikir / “mindset” semua keluarga memandang masa depan kehidupan seorang anak. Mulai dari merencanakan kelahiran, pendidikan, pola asuhnya, dilingkungan seperti apa tempat ia tumbuh.  Artinya segala dinamika kehidupan keluarga- yang didalamnya ada keluarga inti, kakek – nenek, dan keluarga besar lain, – turut mempengaruhi tumbuh kembang seorang anak.

Stunting tidak hanya disebabkan oleh mampu atau tidaknya sebuah keluarga secara ekonomi. Data menunjukan bahwa stunting juga dialami oleh anak dari keluarga yang  tingkat ekonominya baik. Pola asuh seorang ibu, atau sebuah keluarga turut menentukan pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Apakah keluarga tersebut tahu bagaimana mengasuh anak dengan baik. Mencukupi segala kebutuhan anak, raga dan jiwanya.

Apakah komunikasi dalam keluarga berjalan dengan baik yang membantu pertumbuhan anak secara utuh? Atau komunikasi di rumah selalu diwarnai dengan pertengkaran dan “hadirnya isi kebun binatang” yang tentu mempengaruhi psikologis seisi rumah, terutama anak.

Kondisi social ekonomi keluarga juga berarti apakah anak memperoleh kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya. Terutama pada masa-masa emas usia pertumbuhannya. Ataukah anak ditinggal merantau salah satu atau kedua orang tua dan dititipkan ke neneknya.

Kondisi social ekonomi keluarga juga menyangkut bagaimana sebuah keluarga memandang lingkungan tempat tumbuh kembang anak di rumah. Bagaimana sanitasinya. Apakah kebutuhan MCKnya sesuai standard kesehatan? Apakah akses terhadap air bersih mencukupi?

Depoedu.com, 19 November 2018, menulis “Stunting bukan sekedar ganguan tinggi badan seorang anak, lebih dari itu, ini menyangkut hambatan kecerdasan anak, kerentanan terhadap penyakit menular bahkan tidak menular, serta penurunan produktivitas pada usia dewasa”. Defisit gizi bawaan seorang ibu, terutama pada masa kehamilan dapat berakibat fatal. Pertumbuhan janin, bayi dan balita sangat tergantung  pada waktu.

Dalam waktu-waktu tersebut dibutuhkan nutrisi-nutrisi yang tepat sesuai kebutuhan pertumbuhan. Jika nutrisi-nutrisi tersebut tidak tersedia, maka dapat mengakibatkan pembentukan yang salah atau kerusakan pada sel otak. Bisa jadi kerusakan ini bersifat permanen, tidak dapat diperbaiki lagi. Janin dan bayi yang tidak mendapat nutrisi terbaik semasa pertumbuhan otaknya, mungkin akan mengalami hambatan belajar seumur hidup.

Gambaran ini menunjukkan betapa fatalnya pemenuhan kebutuhan gizi seseorang, terutama selama masa kehamilan seorang ibu dan gizi selama usia emas anak. Sebelum kehamilan, apakah keluarga-keluarga kita juga mempersiapkan secara baik kehadiran sang anak? Apakah gizi calon ibu juga tercukupi menjelang kehamilan?

Apakah keluarga-keluarga kita sudah benar-benar mengerti dan memahami komposisi gizi yang baik bagi anak-anak, sejak masih janin hingga masa emas usianya? Bagaimana cara pandang keluarga tentang pemberian asi eksklusif? Bagaimana mengolah makanan secara baik dan benar untuk mencukupi kebutuhan nutrisi anak, sesuai dengan tahap-tahan usia pertumbuhannya?

Melakukan pembelajaran secara luas kepada semua pihak tentang sebab dan akibat stunting  harus menjadi focus pertama dalam menggempur stunting. Sebab merubah pola pikir adalah tahapan dan proses yang paling sulit. (Foto : medikastar.com)

Sebarkan Artikel Ini:

2
Leave a Reply

avatar
2 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Stunting, ‘SoLor’, dan “Syuting” di Flores Timur, Redefinisi poin-poin Menggempur Stunting. […]

trackback

[…] Baca Juga: Stunting, ‘SoLor’, dan “Syuting” di Flores Timur, Redefinisi poin-poin Menggempur Stunting. … […]