Eposdigi.com– “Lihatlah, mereka berpura-pura menjadi si bijak, mendengar dan memberi masukan, lalu kemudian menendang dan menjatuhkan yang lainnya. Aku sudah terbiasa dengan kejadian seperti itu, dan itu tidak masalah buatku.”
Ungkap Awal kepada Akhir, seraya memberi peringatan bahwa “berhati-hatilah dalam bertutur, dan mendengar. Tidak usah menceritakan sesuatu atau mencari tahu hal-hal atau yang tidak perlu kamu tahu. Karena beberapa sumber informasi yang akan engkau terima adalah SESAT.
Belajarlah untuk mengelola pikiranmu, karena kebahagiaan sejati lahir dari hal-hal yang bisa kita kendalikan, dan itu ada di kepala.”
“Lalu, apa saja yang tidak bisa saya kendalikan?” Tanya Akhir kepada bapaknya karena tak kunjung menangkap makna implisit.
“Yang tidak bisa dikendalikan adalah sesuatu di luar diri kita. Orang-orang Stoa meyakini bahwa apapun yang ada di luar diri kita, tidak akan pernah bisa kita kendalikan. Omongan orang, penilaian orang, dan kejadian atau peristiwa apapun tidak akan bisa kita kendalikan.
Yang bisa kita kendalikan adalah mimpi kita, tujuan hidup kita, penilaian kita, dan keputusan-keputusan yang akan kita ambil. Dan itu sumbernya ada di kepala. Maka POTONG dan buanglah, jika engkau ingin bahagia.”
“Hala-hala, Bapakmu itu sok tahu, Akhir. Ia kebanyakan membaca filsafat”. Seketika riuh seisi ruangan, ketika Ibu Akhir ingin menengahi pembicaraan antara bapak dan anak.
***********
“Pak, anakmu itu belum terlalu dewasa. Isi kepalanya belum cukup mampu menampung hal-hal yang menurutku rumit, yang engkau sampaikan kepadanya.
Biarkan ia berkembang semestinya, bertumbuh sewajarnya dan memaknai sendiri. Jangan kau ceritakan pengalamanmu.”
“Loh, loh, Bu, kan ngga papa. Begitulah kan, kenyataanya? Aku sedang mengajarinya.”
“Ah, sudahlah Pak, urus saja kepala anakmu itu. Semoga saja dia ngga telan mentah-mentah.”
Ibu pun membalikan badannya. Si bapak yang pengertian pun mendekap dari belakang, mencoba melingkarkan tangannya untuk memenangkan perasaan isterinya.
Begitulah pergulatan antara orang tua. Si Ibu yang dengan perasaannya dan si bapak yang dengan logikanya. Sama-sama sayup menutup mata di penghujung malam.
*************
“Dipotong?” Maksudnya gimana, Pak? Meninggal dong?
“Bukan itu yang bapak maksudkan. Kamu akan tahu sendiri.” Ungkap Awal berusaha menghindari pembicaraan karena tak kuat melihat sorotan mata isterinya.”
“Ayo keluar, temukan sisi melankoliamu
Karena kita bukanlah sekoci kecil yang tak berdaya,
Yang bisa terombang-ambing ke sana kemari,
Digoyangkan oleh keadaan.
Ohhh, Maha Dewa,
Tuntunlah aku pada takdir yang ingin engkau berikan.”
Tiba-tiba, sapu pun melayang di bagian badan si Tengah.
“Harusnya kau ajari anakmu ini Pak. Sudah lulus, ngga mau kerja. Bisanya cuman membacakan puisi tiap hari. Suruhlah dia cari kerja, biar bisa bantu adiknya buat sekolah.” Ungkap ibu sembari mengambil sapu untuk membersihkan isi rumah yang sangat berantakan.
“Sana ambil sapumu, bantu ibu buat bersih-bersih rumah.”
*******
Pak, sepertinya serius sekali. Apa yang bapak bicarakan kepada Akhir? Ibu kalau sudah marah-marah seperti itu, biasanya ada hal rumit yang bapak katakan.
Hessssssp. Usai menyeruput kopi, bapaknya kemudian menggeretakkan gigi sembari menimpali. “Biasa, urusan kerjaan.”
“Oww, ibu-ibu rempong yang pernah bapak ceritakan itu?
”Oww tidak, ada sesuatu yang lain.”
“Pak, aku ingin menyampaikan sesuatu. Sebenarnya beberapa waktu yang lalu, aku pernah dipanggil untuk wawancara”.
“Aku ditolak dengan alasan yang sangat kapitalis, penuh monopoli dan bahkan sangat tidak manusiawi. Aku masih ingat sorotan mata itu. Mata yang nyalah penuh kebencian.
Bahkan sampai sekarang pun, aku masih mengingatnya dengan sangat jelas. Itu sungguh sangat membekas. Berpuluh-puluh kali aku menjadi bagian dari yang mayor, dan mereka menerimaku tanpa syarat.
Tapi tidak dengan yang ini, ungkapannya sungguh sangat menyakitkan. Bagiku, ia hanyalah parasit yang menumpangi rumah para kapitalis.
Sekuat dan setangguh apapun aku sebelumnya, ungkapan itu sungguh sangat membuatku jatuh.
Sambil merenungi, ayahnya pun bertanya? “Sorotan yang seperti apa? Apakah ia melukai egomu? Apakah benar, sehingga itu sungguh sangat mencederai ingatanmu?
“Ya, bagaimana bisa ia mencela takdir yang Tuhan berikan kepadaku? ‘Kamu itu sebaiknya makan yang banyak, biar gemuk. Kami membutuhkan orang-orang yang berisi.
‘Kamu itu sebaiknya pakai lulur, biar bersih’ karena kami membutuhkan orang-orang yang good looking.
Sekalian saja, rambutmu itu diluruskan, karena keriting dan hitam seperti kalian tidak akan pernah mendapatkan tempat.”
Ungkap HRD dengan mulut penuh sayatan tajam. Bagaimana Tengah bisa baik-baik saja? Ungkapan HRD sialan itu terus lalu lalang di kepalanya. Sungguh membuatnya sangat jengkel pada penjilat tersebut.
Ternyata benar, jika ingin membunuh karakter seseorang, seranglah fisik mereka.
Buat mereka menjadi pesimis dengan keadaan tubuhnya.
Buat mereka menjadi teralienasi dengan dirinya. Hingga merasa lacur. Begitupun yang dialami oleh Tengah.
“Tengah, sudah saatnya kau mengurangi merawat sesuatu yang terlihat. Bukannya tidak boleh, tapi kamu perlu fokus pada yang lain. Yang selama ini kau tinggalkan.
Kau perlu merawat yang tidak terlihat. Seperti obrolan singkat bapak kepada adikmu, yang entah paham atau tidak. Tapi bapak yakin, engkau mampu memahaminya.
Kamu tidak harus membesarkan ototmu, meluruskan rambutmu,
membersihkan fisikmu dengan segala macam bahan kimia apapun untuk menjadi berharga bagi orang lain.
Karena sejatinya kamu sudah berharga dengan keapaadaannya kamu.
Untuk bisa menemukan makna dari yang terlihat, kamu perlu melampaui yang fisik. Begitulah manusia modern sekarang. Mereka menjadi semakin ekonomis, ataupun materialis. Apapun akan diberi angka, atau selalu ada kalkulasi.
Kita akan terus dinilai sejauh batas keberfungsian kita.
Ketika kita tidak memenuhi yang materi, atau tidak berfungsi bagi yang lain, orang-orang akan menendang kita.
Dan ketika kamu terjatuh, kamu akan kembali pada yang tidak terlihat.
Oleh karena itu, rawat baik-baik yang tidak terlihat. Banyak orang cenderung merawat yang terlihat, katakanlah tubuh fisik.
Menggunakan lulur, parfum, dan segala macam tetek bengek lainya. Tapi, apakah itu menjamin bahwa ia memiliki karakter yang baik?
“Yang tidak terlihat adalah relasimu dengan keluargamu, dengan ibumu dan dengan adikmu, serta bagaimana relasi kehidupan batinmu dengan Yang Maha. Jangan pernah lupa untuk berdoa.
Sejauh apapun kamu pergi, serapuh apapun kamu nantinya di titik tertentu, kamu akan selalu kembali pada yang tidak terlihat ini.
Peluk dan minta maaflah pada ibumu, pada adikmu. Jika engkau sungguh merasa bahwa selama ini engkau telah memberi jarak pada mereka, maka lakukanlah.
********
Ayam pun berkokok di pagi hari, tanda bahwa aktivitas hari baru telah dimulai. Begitupun keputusan untuk memberi jarak kepada ibunya.
Bukankah seorang ibu akan menjadi cinta pertama bagi anaknya? Namun tidak dengan yang dialami oleh Tengah.
Tengah telah memberi jarak kepada ibunya karena ia selalu dinomorduakan. Akhirlah yang selalu diperhatikan.
Kecemburuan Tengah terhadap Akhir telah memberi jarak yang begitu membekas di hati Tengah. Ia tidak begitu dekat dengan ibunya.
“Pak, bangunkan anakmu itu. Mintalah ia untuk membersihkan halaman. Anak macam apa itu, kerjaannya hanya tidur dan makan.”
Bukannya lamar di perusahana atau apapun itu. Sudah capek-capek kita membayarinya kuliah. Tapi hasilnya sungguh nihil.”
Pungkas ibunya seolah tidak kuat menahan ocehan para tetangga ketika ditanyai di pasar “eh, anakmu itu ko ngga kerja-kerja, padahal sudah lama lo lulusnya.”
“Apa mungkin ngga kuliah ya dulu, ijazahnya pakai beli, makanya sering ditolak kalau mau melamar.” Bisik ibu yang satu kepada ibu yang lain.
Jarak yang tercipta saban hari semakin jauh antara Tengah dan Ibunya. Ibunya bahkan tidak pernah tahu, luka macam apa yang sedang ditanggung oleh anaknya.
Belum lagi omongan tetangga dan HRD yang dengan songongnya mencela.
Ketidakpenuhan harapan orang terdekat bahkan orang-orang terjauh sekalipun, menjadikan Tengah semakin terasing dengan siapapun.
Ia menjadi semakin mengurung dirinya. Bahkan bepergian pun, ia perlu menutup rapat tubuhnya dengan jaket dan menggunakan topi.
*******
2 tahun pun berlalu sejak kepergian bapak mereka. Akumulasi kegagalan setiap hari membuat Tengah ingat akan ungkapan bapaknya. Bahwa ia perlu mendekatkan diri kepada yang kurang terlihat.
Ingatan bawah sadar akan petuah bapaknya membuncah ke titik sadarnya. Tengah sadar, bahwa kegagalannya selama ini dalam mendapatkan pekerjaan karena ia kurang, atau bahkan mengabaikan yang tidak terlihat.
Tengah pun mencoba mendekatkan diri dengan ibunya. Suara apapun yang keluar dari tenggorokan ibunya, ia anggap sebagai keseleo lidah atau bahkan ungkapan kasih yang mungkin berbeda seperti ibu-ibu pada umumnya.
Ia mencoba memahami bagaimana perasaan ibunya. Walaupun secara fisik ia masih belum terbiasa. Minimal, Tengah sudah berdamai dengan hatinya, dengan pikirannya, dan itu sudah mendekatkan jarak secara psikis.
“Ibu, aku mencintaimu” Tengah membatin merayakan kemenangannya, sembari memeluk adiknya, Akhir.
****
Tiba-tiba bunyi ponsel Tengah berdering. Pak, apakah bisa datang ke kantor kami untuk dilakukannya wawancara. Kami telah memutuskan memproses CV yang bapak kirimkan.
TAMAT
Foto: Wallpaperbetter.com
Leave a Reply