Eposdigi.com – Setelah tamat SMA Kawula Karya Lewoleba, Mansetus Kalimantan Balawala memilih kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Nusa Cendana Kupang. Tahun 1993 ia mulai kuliah dan menyelesaikannya sampai dengan 1998.
Mengapa hukum? Mansetus berpendapat, alasannya dengan mempelajari ilmu hukum ia bisa mengetahui banyak hal karena kehidupan manusia karena antara satu dengan yang lainnya selalu berhubungan dengan hukum.
‘’Menggeluti bidang hukum kita bisa mengetahui banyak hal milsanya hukum yang berkaitan dengan bidang agrarian (pertanian), kesehatan, pendidikan, olahraga dan sebagainya. Maka keputusannya bulat tetap masuk Fakultas Hukum, Undana, Kupang,’’ kisah Mansetus.
Mansetus mengaitkan hubungan antara disiplin ilmu yang digeluti dengan cakupan undang-undang misalnya mengatur dunia pendidikan, kesehatan, pertanian.
Hal ini menurutnya membuka wawasan semua bidang bagi yang sedang belajar di bidang hukum.
Gemar Menulis
Mansetus merasa sangat bersyukur karena Tuhan memberikannya talenta. Ia menyadari bahwa manusia diberikan kemampuan masing-masing. Selain konsentrasi belajar hukum ia mengasah kemampuan menulis.
Perlahan – lahan ia mengasah kemampuan menulis itu. Ia kemudian mencoba menulis di media massa, bukan hanya media lokal tapi media nasional.
Mula-mula ia menulis di surat kabar mingguan (SKM) Dian. Ini adalah sebuah surat kabar mingguan milik SVD yang terbit di Ende, Flores.
Lalu ia mulai menulis dan menjadi wartawan Travel Club, sebuah media pariwisata yang terbit di Jakarta. Selain itu sebagai penulis lepas mingguan Hidup terbit di Jakarta.
Menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Undana yang rajin menulis di media massa, itulah yang dijalani Mansetus. Setelah tamat di Undana (1998), Manstus diajak seorang kakak kelas angkatan Fakultas Hukum Undana, bekerja sebagai wartawan NOVAS di Dili ( kini Timor Leste).
Baca Juga: Motor Ambulans, Penyelamat Nyawa Ibu dan “Buah Hati”
Hasil jajak pendapat akhirnya menentukan Timor Timur menjadi negara merdeka sehingga tidak lagi menjadi bagian dari Indonesia. Gelombang eksodus masyarakat pro integrasi dan kontra integrasi tidak dapat terhindarkan.
Situasi yang tidak kondusif menyebabkan masyarakat keluar dari Timtim. Mansetus yang bekerja sebagai jurnalis meninggalkan Dili dan menuju ke Timor Barat (Kupang).
Di Kupang, Mansetus masih tetap memilih menjadi jurnalis Surya Timor, sebuah media harian yang terbit di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) dari tahun 1999 sampai dengan 2001.
Suatu kesempatan ia mendapat kesempatan meliput suatu kegiatan di Flores Timur. Di tempat ini berjumpa dengan para petugas kesehatan (tenaga medis) di kota Renha itu.
Betapa berat perjuangan para bidan untuk menyelamatkan nyawa ibu yang melahirkan, akibat tidak cepat tertolong akhirnya ibu dan anak tak terselamatkan.
Kisah perjumpaan dengan petugas kesehatan itu menjadi titik awal ia bergabung dengan Yayasan Kesehatan untuk Semua (YKS). Ia pun mengenang kembali peristiwa 1980 an yang merenggut banyak korban akibat wabah diare.
Ia bergabung dalam YKS kemudian memberikan perhatian khusus terhadap pelayanan kesehatan ibu dan buah hatinya. Ia memilih alat transportasi karena sarana ini sangat penting dan dibutuhkan ketika dalam kondisi darurat.
‘’Saya lebih memilih motor karena lebih gesit, lincah melewati jalan mulai berangsur membaik saat ini. Dengan usaha itu jumlah kematian ibu dan anak –anak sudah mulai menurun, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,’’ kisah ayah dari Maria Floresti Ata Balawala.
Mansetus menjelaskan masyarakat semakin menyadari menggunakan layanan kesehatan di pusat kecamatan. Ia mengakui sebelum program ini dijalankan YKS, kematian ibu dan anak- anak sangat tinggi.
Dikatakan, dalam suatu periode tertentu, armada motor ambulans ikut menekan jumlah kematian ibu dan anak.
‘’Satu contoh di awal program Ambulans Motor mulai di kembangkan, kematian ibu mencapai 25 kasus, bayi 77 kasus dan balita 97 kasus. Bandingkan dengan kasus serupa pada semester satu periode Januari – Juni 2020; yakni lahir mati 3 kasus, kematian bayi 2 kasus, kematian neo natal 4 kasus dan kematian 1 kaasus kematian ibu nol (0) kasus.
Aksi Kemanusiaan
Delapan belas (18) tahun YKS telah berkiprah namun demikian ada banyak deretan tantangan yakni terbatasnya biaya operasional. Walaupun telah ada beberapa donor yang memberikan perhatian lembaga ini masih terus membutuhkan dana untuk terus melakukan program ini.
Untuk terus melanjutkan program ini, kata Mansetus YKS membangun bengkel motor juga untuk dapat membiayai program unggulannya. Meskipun unit usaha ini belum menunjukkan hasil maksimal, ke depan unit usaha ini bisa menopang kegiatan Ambulns Motor.
Apalagi tidak hanya memberikan perhatian terhadap kesehatan ibu dan anak tapi lembaga ini memperluas program perlindungan terhadap tenaga kerja Indonesai yang mengalami tindakan tidak manusiawi dari majikan di negeri Jiran, Malaysia.

Menyinggung tentang bantuan perusahaan, Mansetus menceritakan tahun 2004, YKS mendapat bantuan dari salah satu perusahaan sepeda motor dari Afrika dengan nama “eRanger”.
Perusahaan ini mengirim tiga unit motor yang didesain sedemikian rupa, termasuk tempat tidur pasien. Namun sayangnya bantuan itu tidak diterima karena ada regulasi bea cukai yang melarang menerima import barang masuk bukan barang baru. Tiga unit motor yang dilengkapi tempat tidur akhirnya tidak bisa diterima karena terbentur dengan aturan bea cukai itu.
Pada waktu itu YKS berusaha menggunakan jasa konsultan untuk bisa mengambil bantuan tersebut tapi karena terbentur aturan maka motor yang telah tiba di Surabaya diikirm kembali ke Afrika.
Ini adalah pengalaman pahit perjalanan YKS yang berhubungan dengan bantuan dari luar negeri.
‘’Secara umum pemerintah daerah Flores Timur tidak ada regulasi yang menghambat program hanya secara nasional yang berkaitan dengan bantuan luar negeri, sebaiknya pemerintah bisa membebaskan biaya impor untuk setiap barang yang digunakan untuk kepentingan sosial atau kepentingan kemanusiaan,’’ saran Mansetus.
Foto: Mansetus Kalimantan Balawala saat menghadiri Acara Ulang Tahun ke 60 Astra di Jakarta tahun 2017 silam / Foto dari Akun FB Mansetus Balawala.
[…] Baca juga: Hukum, Jurnalis dan Aksi Kemanusiaan […]
[…] Baca Juga: Hukum, Jurnalis dan Aksi Kemanusiaan […]