Adonara 1882: Leo, Anak Kepala Kampung Karing yang Masuk ke Pusaran Politik Larantuka

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Sebuah pembaptisan, sebuah janji seorang ayah, dan perjalanan seorang anak yang kemudian bersinggungan dengan konflik kekuasaan di Adonara.

Pada 12 Agustus 1880, seorang anak dari Adonara menerima baptisan di Larantuka.  Namanya Leo. Sekilas, peristiwa itu mungkin tampak seperti catatan kecil dalam sejarah penyebaran agama Katolik di Flores Timur. 

Namun, dua tahun kemudian, nama Leo kembali muncul dalam sebuah rangkaian peristiwa yang jauh lebih besar: pertarungan pengaruh antara para penguasa, kepala kampung, dan pemerintah kolonial di Adonara.

Kisah ini dicatat oleh Karel Steenbrink dalam “Catholics in Indonesia 1808–1942: A Documented History”, jilid pertama.

Di balik beberapa baris catatan itu, tersimpan kisah seorang anak, janji seorang ayah, serta hubungan rumit antara agama dan politik pada penghujung abad ke-19.

Janji Seorang Ayah

Steenbrink menulis bahwa Leo adalah putra seorang kepala kampung di Adonara. Ia tinggal di Karing. Ketika Leo jatuh sakit, ayahnya membuat sebuah janji: jika anak itu sembuh, ia akan mengirim Leo bersekolah di Larantuka dan mengizinkannya menerima baptisan.

Steenbrink menulis: “On 12 August 1880 a son of a village head on Adonara was baptized.”  “Pada 12 Agustus 1880, seorang putra kepala kampung di Adonara dibaptis.”

Leo kemudian sembuh, dan janji sang ayah dilaksanakan. Anak itu pun dibawa ke Larantuka, tempat ia menerima baptisan dengan nama Leo. Bagi keluarga tersebut, peristiwa ini bermula dari sakit dan harapan akan kesembuhan. 

Namun, dalam catatan sejarah, keputusan itu menjadi pintu masuk bagi kisah yang menghubungkan Karing, Larantuka, dan pergolakan di Adonara.

Steenbrink menyebut Leo sebagai orang Kristen pertama di wilayahnya. Penting dicatat: keterangan itu merujuk pada wilayah Leo, bukan berarti Leo adalah orang Kristen pertama di seluruh Adonara.

Tujuh Istri dan Batas yang Tidak Diberikan Pengeculian

Ayah Leo sendiri tidak ikut dibaptis.  Menurut catatan Steenbrink, ia merupakan seorang kepala kampung yang berpengaruh dan mempunyai tujuh istri.

Steenbrink mengutip penilaian misionaris Ten Brink mengenai alasan di balik keadaan tersebut:

“It seems that he took these wives primarily in order to have more allies in times of war…”  “Tampaknya ia mengambil istri-istri itu terutama untuk memperoleh lebih banyak sekutu pada masa perang…”

Penjelasan tersebut memperlihatkan cara seorang misionaris menafsirkan perkawinan seorang pemimpin lokal dalam situasi konflik. 

Bagi Ten Brink, perkawinan itu mungkin berkaitan dengan pembentukan aliansi, bukan semata-mata urusan pribadi.

Namun, sekalipun alasan politik itu dipertimbangkan, pihak misi tetap tidak memberikan pengecualian terhadap ketentuan perkawinan yang mereka berlakukan bagi orang yang hendak dibaptis.

Di sini tampak pertemuan dua tata nilai: kedudukan seorang kepala kampung yang bertumpu pada hubungan sosial dan politik setempat, serta aturan keagamaan yang dibawa para misionaris. 

Catatan tersebut tidak menjelaskan seluruh pandangan sang ayah, tetapi cukup memperlihatkan bahwa penerimaan agama baru tidak selalu berlangsung tanpa persoalan

Tahun : 1882 : Leo Kembali ke Karing

Dua tahun setelah pembaptisannya, Leo muncul kembali dalam catatan sejarah.

Pada 1882, ia dikirim ke daerah asalnya bersama Don Lorenzo—putra mahkota Larantuka yang kelak dikenal sebagai Don Lorenzo II—serta Bruder Van den Biggelaar. 

Mereka menjalankan sebuah penyelidikan untuk memperoleh keterangan mengenai pertikaian politik di Adonara. Steenbrink menuliskan tujuan perjalanan tersebut sebagai: “a fact-finding mission”  “sebuah misi pencarian fakta.”

Mereka berusaha memahami pertentangan antara para pendukung Raja Adonara yang beragama Islam dan sejumlah kampung di daerah pegunungan. 

Kampung-kampung itu dipimpin oleh kepala-kepala setempat, termasuk kepala kampung Karing, yang mempunyai hubungan dengan Larantuka dan tetap setia kepada Raja Katolik, Dominggo.

Sumber tidak menjelaskan secara rinci apa tugas pribadi Leo dalam rombongan tersebut. 

Karena itu, kita tidak dapat memastikan apakah ia menjadi penerjemah, penunjuk jalan, atau penghubung dengan masyarakat setempat.  Yang jelas, namanya tercatat sebagai salah satu orang yang ikut dalam perjalanan itu.

Bayangkan perubahan yang dialami Leo: seorang anak yang dua tahun sebelumnya dibaptis setelah sembuh dari sakit, kini kembali ke daerah asalnya bersama rombongan yang sedang mencari keterangan tentang konflik politik. 

Catatan sejarah tidak menceritakan perasaannya, tetapi perjalanan tersebut menempatkannya di persimpangan antara kehidupan kampungnya dan kepentingan politik Larantuka.

Pertikaian  Raja dan Pengaruh Pemerintah Kolonial

Konflik di Adonara tidak dapat dipahami hanya sebagai pertentangan agama.  Di baliknya terdapat persoalan kesetiaan, hubungan antara penguasa, dan persaingan pengaruh.

Steenbrink menulis bahwa administrator sipil Kleian tampaknya bersekongkol melawan Raja Dominggo dari Larantuka dan memihak Raja Adonara. 

Kata yang digunakan Steenbrink menunjukkan dugaan atau penilaiannya atas peristiwa tersebut, bukan sesuatu yang patut kita nyatakan sebagai kepastian tanpa memeriksa sumber-sumber lain.

Hasil penyelidikan rombongan Don Lorenzo disebut memberi dukungan bagi posisi Raja Dominggo di hadapan Residen Kupang. 

Dengan demikian, perjalanan itu bukan sekadar kunjungan ke kampung-kampung, melainkan juga bagian dari usaha memperoleh keterangan yang dapat memengaruhi penilaian pemerintah kolonial terhadap pertikaian tersebut.

Peristiwa ini memperlihatkan betapa rumitnya hubungan di wilayah itu.  Kesetiaan kepada seorang raja dapat berjalan bersama identitas agama, kepentingan kampung, hubungan keluarga, dan kebutuhan akan perlindungan politik. 

Lewoko : Rencana yang LAhir dari Pertikaian

Setelah penyelidikan itu dinilai menguntungkan pihak Larantuka, muncul rencana untuk membangun permukiman dan perkebunan bagi orang-orang Larantuka di wilayah Lewoko, Adonara.

Steenbrink menjelaskan bahwa banyak orang Larantuka mempunyai ladang di seberang selat dan telah lama mencari dukungan dari kepala kampung Karing yang berpengaruh. 

Bahkan, Ten Brink pernah mempertimbangkan untuk meninggalkan Larantuka dan memulai kembali karya misinya di Lewoko.

Catatan itu penting karena menunjukkan bahwa hubungan Larantuka dengan Adonara bukan hanya menyangkut agama atau persaingan para raja. Ada pula hubungan tanah, ladang, permukiman, dan kepentingan ekonomi yang melintasi selat.

Rencana Lewoko tersebut juga memperlihatkan bagaimana situasi politik dapat membuka kemungkinan baru bagi perluasan pengaruh. 

Akan tetapi, rencana tidak boleh disamakan dengan pelaksanaan: halaman yang kita bahas mencatat munculnya gagasan itu, bukan bukti bahwa seluruh rencana benar-benar terwujud sebagaimana direncanakan.

Sebuah Nama Kecil ditengah Sejarah Besar

Sesudah konflik pada awal 1880-an mereda, hubungan masyarakat pegunungan Adonara dengan Kekristenan Larantuka berkembang melalui sejumlah jalur, termasuk anak-anak yang pernah bersekolah di Larantuka dan perjalanan misi yang dipimpin Don Lorenzo beserta rombongannya.

Dalam rangkaian itu, Leo menjadi salah satu nama yang layak diperhatikan. 

Bukan karena sumber menyebutnya sebagai tokoh utama atau pemimpin besar, melainkan karena perjalanan hidupnya menghubungkan dua peristiwa: baptisan pada 1880 dan penyelidikan politik pada 1882.

Kita tidak mengetahui bagaimana kehidupan Leo setelah perjalanan itu.  Tidak diketahui pula bagaimana ia sendiri memahami perubahan yang dialaminya. 

Arsip yang dirangkum Steenbrink tidak memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Namun, justru di situlah nilai catatan sejarah ini. 

Sejarah daerah tidak hanya dibentuk oleh raja, pejabat kolonial, dan para misionaris yang namanya sering muncul dalam dokumen. Kadang-kadang, jejak seorang anak yang hanya disebut beberapa baris dapat membantu kita melihat bagaimana kehidupan sehari-hari, keyakinan, kesetiaan, dan politik saling bertaut.

Pada 1880, Leo tercatat sebagai seorang anak yang dibaptis setelah ayahnya menepati janji. Pada 1882, namanya kembali muncul dalam perjalanan yang menyentuh pertarungan pengaruh di Adonara.

Dua tahun saja memisahkan kedua catatan itu. Tetapi di antara keduanya terbentang sebuah dunia yang jauh lebih luas daripada kisah satu pembaptisan.

Sumber:

Karel Steenbrink, “Catholics in Indonesia 1808–1942: A Documented History”, Vol. I: “A Modest Recovery 1808–1903” (Leiden: KITLV Press, 2003).Kutipan bahasa Inggris dalam tulisan ini diambil dari uraian Steenbrink.

Keterangan foto hanya ilustrasi

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of