Tanah Pertanian Setelah Lewotobi: Jangan Sekadar Membersihkan Abu

Lingkungan Hidup
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki meninggalkan persoalan yang jauh lebih panjang daripada berhentinya letusan. Ketika abu dan material vulkanik menutup tanaman, perhatian pertama tentu tertuju pada kerusakan yang tampak, semisal tanaman mati, daun tertutup abu, lahan berubah warna, dan produksi pertanian menurun.

Namun, ada kerusakan lain yang bekerja dalam diam, yakni fungsi tanah.

Tanah pertanian bukan sekadar tempat tanaman berdiri. Tanah pertanian adalah sistem kehidupan yang mengatur air, udara, akar, mikroorganisme, bahan organik dan unsur hara. Ketika material erupsi menutup permukaan tanah, yang berubah bukan hanya warna permukaan lahan, tetapi juga hubungan antara tanah, air dan tanaman.

Karena itu, rehabilitasi lahan pertanian pasca erupsi Lewotobi tidak cukup dilakukan dengan membersihkan abu, membagikan benih, kemudian kembali menanam. Yang perlu dipulihkan adalah fungsi tanah sebagai ekosistem produksi.

Abu bukan sekadar bencana

Gunung Lewotobi Laki-Laki telah berulang kali menunjukkan aktivitas erupsi yang berdampak pada wilayah sekitar. Kajian Badan Geologi mengenai erupsi 2024–2025 mencatat bahwa abu vulkanik tersebar pada kawasan permukiman, lahan pertanian, dan kawasan hutan. Dua peristiwa erupsi besar terjadi pada 3 November 2024 dan 20 Maret 2025.

Pada 17 Juni 2025, misalnya, Badan Geologi melaporkan erupsi eksplosif dengan kolom abu sekitar 10.000 meter di atas puncak. Hujan kerikil juga dilaporkan terjadi di sekitar Boru.

Sebelumnya, dampak terhadap pertanian sudah dirasakan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Flores Timur pada Januari 2024 mendata lahan pertanian terdampak di sejumlah desa di Wulanggitang dan Ile Bura. Taksasi awal pemerintah daerah saat itu mencapai lebih dari 100 hektare.

Laporan lapangan juga menunjukkan tanaman padi dan jagung mengalami kerusakan akibat tertutup abu vulkanik. Tetapi dampak terhadap tanaman tidak seragam. Jenis tanaman, ketebalan abu, komposisi kimia material, dan kondisi lingkungan menentukan tingkat kerusakan. Di sinilah kita perlu mengubah cara pandang.

Abu vulkanik memang dapat menjadi bencana dalam jangka pendek. Tetapi material vulkanik juga dapat menjadi sumber mineral dan unsur hara dalam jangka panjang. Penelitian terhadap material vulkanik menunjukkan bahwa proses pelapukan dapat melepaskan berbagai unsur seperti kalsium, magnesium, kalium, fosfor, silikon dan sulfur.

Dengan demikian, pertanyaan kita tidak boleh berhenti pada: berapa luas lahan yang tertutup abu?

Pertanyaan berikutnya harus lebih ilmiah, yaitu: berapa ketebalan materialnya, apa komposisinya, bagaimana pengaruhnya terhadap tanah awal, dan kapan material tersebut berubah dari beban menjadi sumber daya?

Jangan menganggap semua abu menyuburkan. Di sinilah kehati-hatian diperlukan.

Ada kecenderungan romantis dalam melihat gunung api, bahwa abu dianggap sebagai “pupuk alami” yang kelak menyuburkan tanah. Pandangan tersebut hanya separuh benar.

Material vulkanik yang baru jatuh belum tentu langsung tersedia bagi tanaman. Unsur hara dalam mineral harus mengalami proses pelapukan. Ketersediaannya dipengaruhi air, suhu, keasaman, mineralogi, ukuran partikel, bahan organik dan aktivitas biologis tanah.

Penelitian pada material vulkanik Gunung Sinabung, misalnya, menunjukkan bahwa abu baru dapat menurunkan pH dan kapasitas tukar kation tanah serta meningkatkan ketersediaan beberapa unsur tertentu. Dalam kondisi tertentu, pembentukan kerak permukaan juga dapat menghambat infiltrasi air dan penetrasi akar.

Karena itu, material erupsi Lewotobi harus diperlakukan sebagai objek penelitian tanah, bukan langsung diberi label sebagai pupuk.

Komposisi setiap gunung api berbeda. Bahkan material dari gunung yang sama dapat berbeda menurut fase erupsi dan lokasi deposisinya.

Maka rehabilitasi lahan Lewotobi membutuhkan pengambilan sampel material erupsi dan tanah di bawahnya secara sistematis.

Yang perlu diketahui antara lain pH, tekstur, C-organik, nitrogen total, fosfor tersedia, kalium dapat ditukar, kalsium, magnesium, kapasitas tukar kation, daya hantar listrik, mineralogi, serta unsur yang berpotensi toksik. Ketebalan deposit juga harus dipetakan.

Dengan data tersebut, kita dapat mengetahui apakah material tersebut harus dibuang, dicampurkan, dibiarkan melapuk, atau justru dimanfaatkan sebagai bagian dari sistem rehabilitasi tanah. Karena ketebalan abu menentukan strategi

Satu kesalahan dalam rehabilitasi pasca erupsi adalah memperlakukan semua lahan terdampak secara seragam.

Padahal, lahan yang tertutup abu setebal beberapa milimeter tentu berbeda dengan lahan yang tertutup puluhan sentimeter. Karena itu ketebalan deposit menentukan hubungan antara material baru dan tanah lama.

Pada deposit tipis, pencampuran dengan lapisan tanah atas mungkin dapat mempercepat integrasi material vulkanik ke dalam sistem tanah. Pada deposit yang lebih tebal, pencampuran secara paksa belum tentu menjadi pilihan terbaik. Risiko kekurangan bahan organik, gangguan struktur tanah, infiltrasi, erosi, dan ketidakseimbangan hara harus diperhitungkan.

Penelitian pascaerupsi Kelud menunjukkan bahwa rehabilitasi dapat dilakukan melalui kombinasi pengolahan tanah, pencampuran abu dengan tanah, penambahan bahan organik dan pupuk, serta pembuatan lubang infiltrasi atau rorak.

Penelitian lain mengenai pemulihan tanah setelah erupsi Kelud menunjukkan bahwa lapisan abu permukaan pada awalnya dapat memiliki stabilitas agregat dan infiltrasi yang rendah. Namun, pemulihan fungsi fisik tanah dapat berlangsung seiring berkembangnya vegetasi dan pengelolaan lahan. Artinya, rehabilitasi bukan pekerjaan sekali selesai. Rehabilitasi adalah proses ekologis.

Memulihkan tanah, bukan sekadar mengejar produksi

Dalam situasi pascabencana, pemerintah tentu dituntut mengembalikan produksi pangan secepat mungkin. Tetapi mengejar produksi tanpa memulihkan tanah berisiko menghasilkan rehabilitasi yang keliru. Tanaman dapat tumbuh kembali, tetapi tanah belum tentu pulih.

Tanah yang mengalami pemadatan, kehilangan bahan organik, gangguan infiltrasi, ketidakseimbangan pH atau rendahnya aktivitas biologis membutuhkan pendekatan berbeda dari sekadar penambahan pupuk. Karena itu, strategi pemulihan sebaiknya dilakukan dalam beberapa tahap.

Pertama, pemetaan deposit.

Lahan terdampak perlu dipetakan berdasarkan ketebalan material erupsi. Teknologi penginderaan jauh, drone, GIS, dan survei lapangan dapat digunakan secara terpadu.

Kedua, karakterisasi material.

Sampel material vulkanik perlu dianalisis secara fisik, kimia dan mineralogi. Jangan sampai kebijakan pupuk dan amelioran dibuat sebelum kita mengetahui apa yang sebenarnya ada di dalam tanah.

Ketiga, diagnosis tanah.

Tanah asli di bawah material erupsi harus dibandingkan dengan tanah yang tidak terdampak. Dengan demikian, perubahan akibat erupsi dapat dipisahkan dari kondisi alami tanah.

Keempat, rehabilitasi berbasis ketebalan deposit.

Lahan dengan deposit tipis, sedang dan tebal membutuhkan perlakuan berbeda. Tidak semua abu harus diangkut. Tidak semua abu pula harus dicampurkan.

Kelima, pemulihan bahan organik.

Kompos, pupuk kandang, residu tanaman, mulsa dan tanaman penutup tanah dapat memainkan peran penting dalam membangun kembali struktur dan aktivitas biologis tanah.

Keenam, pengelolaan air.

Tanah yang baru tertutup material vulkanik menghadapi persoalan infiltrasi dan erosi. Konservasi tanah dan air harus menjadi bagian dari paket rehabilitasi, bukan program tambahan.

Ketujuh, pemilihan tanaman.

Tanaman pemulihan awal tidak selalu harus tanaman pangan utama. Tanaman yang toleran terhadap kondisi tanah tertentu dapat digunakan sebagai pionir untuk membangun kembali biomassa dan bahan organik sebelum lahan diarahkan menuju sistem produksi pangan yang lebih intensif.

Dari “tanah rusak” menjadi laboratorium alam… Bersambung

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of