Karhutla, Kebakaran atau Pembakaran?

Lingkungan Hidup
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Dalam masa pertumbuhannya, bayi dan janin sangat membutuhkan oksigen dalam kadar yang cukup. Dalam tahapan-tahapan pertumbuhan mereka semua nutrisi yang dibutuhkan harus tercukupi termasuk kebutuhan akan oksigen.  Kekurangan nutrisi dan oksigen dalam tahapan tertentu akan menghambat tumbuh kembang mereka. Kerusakan atau cacat yang timbul akibat kekurangan nutrisi dan oksigen bahkan bersifat permanen. Mempengaruhi kesehatan mereka seumur hidup.

Kandungan oksigen dalam darah mencapai 90 %.  Jumlah oksigen yang berada dalam darah harus tetap dijaga. Terutama pada masa-masa kehamilan. Kekurangan oksigen pada janin bisa mengakibatkan cacat permanen pada otak. Gangguan fungsi jantung. Anemia. Bahkan kematian pada janin (stillbirth).

Udara dianggap sehat jika tidak terdapat lima (5) pencemar utama. Masih dianggap sehat jika kandungan zat-zat ini masih dapat diterima oleh tubuh.  Kelima pencemar ini antara lain Karbon Monoksida (CO), Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen Dioksida (NO2), Ozon Permukaan (O3), dan Partikel Debu (PM10). Zat polutan ini jika terdapat dalam udara dalam jumlah tertentu maka udara dapat dikategorikan tidak sehat.

Kualitas udara dilaporkan menggunakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) atau Air Pollution Index (API) Jika angka ISPU < 50 dikatakan bahwa udara tersebut sehat sehingga tidak memberi dampak buruk bagi kesehatan manusia atau hewan. ISPU dalam rentang 51-100 masuk kategori sedang. Udara dalam kategori ini belum berdampak pada manusia dan hewan namun berdampak buruk pada tumbuhan yang peka. Udara dikatakan tidak sehat jika angka ISPU berada dalam rentang 101 -199. Kategori ini dapat merugikan kesehatan manusia dan hewan yang peka. Tumbuhan dapat rusak karenanya..

Kategori berikutnya adalah sangat tidak sehat. Angka ISPU nya adalah 200 – 299. Kualitas udara yang dapat merugikan kesehatan manusia dan hewan pada sejumlah polulasi yang terpapar. ISPU lebih dari 300 dikategorikan sebagai sangat berbahaya. Kualitas udara seperti ini memberi dampak buruk bagi kesehatan. Dapat mengakibatkan iritasi mata dan ISPA pada orang dewasa. Bisa berdampak jauh lebih buruk pada bayi maupun ibu hamil.

data diolah 23 09 2019 – eposdigi.com

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Beritagar pada 21 September lalu merilis berita 8 kota dengan Indeks Standar Pencemar Udara sangat berbahaya . Palangkaraya – Kalimantan Tengah: 566. Pontianak : 384. Sijunjung – Sumatera Barat : 299. Pekan Baru – Riau : 290. Talawi – Sumatera Barat; 264. Simpang – Jambi : 247. Payakumbu – Sumatera Barat; 229. Dan Solok – Sumatera Barat ISPUnya 207.

Ada fakta yang tak kalah mengejutkan. Merdeka.com belum lama ini melansir berita bahwa karhutlah terjadi karena adanya unsur kesengajaan. Artinya ada orang yang sengaja membakar hutan. Bupati Pelawan mengatakan bahwa 80 % wilayah yang terbakar selalu berubah menjadi perkebunan sawit atau tanaman industry lainnya.

Laman fires.globalforestwatch seperti yang dikutip oleh merdeka.com dihari yang sama mengungkapkan bahwa titik api disejumlah tempat di Indonesia dari tanggal 1 Agustus hingga 14 September menunjukan pola yang sama. Lokasi kebakaran selalu berada di luar kawasan konsensi sawit dan hutan industry.

Hal senada dibenarkan oleh Kolonel Arhanud Sonny Septiono, Komandan Satgas Penanggulangan Kathutla Sumatera Selatan. “Kalau masyarakat tidak mungkin sangat luas kebakarannya. Dilihat dari Pantauan udara berbentuk petakan seakan kebakaram bertujuan untuk buka lahan. Tapi kalau api mendekat ke kebun sawit, padam,” terang Sony pada Jumat (13/09) seperti yang dilansir cnnindonesia.com.

Mengingat dampak buruk yang ditimbulkan dari pembakaran hutan sangat luas semua pihak harus mengambil inisiatif untuk menghentikannya. Perusahaan semestinya memiliki tanggungjawab hukum dan moral untuk mencari alternative lain dalam cara membuka lahan. Bukan dengan membakar.

Terutama pemerintah. Pemerintah harus mengambil langkah tegas.  Penegakan hukum tanpa pandang bulu. Hukuman mesti diperberat. Mengingat dampak kebakar hutan bukan hanya semata merusak lingkungan. Asap yang ditimbulkannya berdampak buruk pada kesehatan manusia. Terutama bayi dan janin. Dampak buruk dari paparan asap mempengaruhi tumbuh kembang mereka. Cacat akibat asap dalam tumbuh kembang mereka bersifat permanen yang berpengaruh buruk pada kesehatan mereka seumur hidup.

Generasi masa depan bangsa seperti apa yang dapat kita harapkan dari mereka yang lahir dan tumbuh dengan perkembangan otak yang tidak normal, jantung bermasalah, dan anemia karena paparan asap saat dalam kandungan atau masih bayi? (Foto:merdeka.com)

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of