Eposdigi.com – Lima tahun yang mengubah rasa takut menjadi kepercayaan. Setelah bermalam di Riang Kemië, Pastor J. Hoeberechts, kembali melanjutkan perjalanan mengelilingi Ilimandiri.
Pagi itu anak-anak katekismus mengucapkan selamat jalan. Hoeberechts membalas: “Hun slamat djalan: goede reis!” “Mereka mengucapkan: selamat jalan!”
Tujuannya kali ini adalah Wailolon dan Leloba. Dua kampung yang letaknya berdekatan dan padat penduduk.
“Wailolon … en Leloba … zijn twee dichtbevolkte kampongs, vlak aan elkander gebouwd.” “Wailolon dan Leloba adalah dua kampung yang padat penduduknya dan dibangun berdekatan.
Tetapi bagi Hoeberechts, kedua kampung ini mempunyai sejarah yang jauh lebih menarik.
“Het is met deze kampongs, jaren lang de schrik van het strandvolk, dat ik mijn missiewerk om den Ilimandiri begonnen ben.” “Dengan kampung-kampung inilah, yang selama bertahun-tahun menjadi ketakutan orang-orang pesisir, saya memulai pekerjaan misi saya di sekitar Ilimandiri.”
Bayangkan perubahan itu. Dulu ditakuti orang-orang pantai. Kini sang pastor justru datang dan diterima. Bahkan ketika Hoeberechts tiba, orang-orang menyambutnya dengan permintaan sederhana:
Baca Juga:
Moeda Kapotoe – Riang Kemie : Gadis Yang Melarikan Diri (Bagian Kedua)
“Toewan, tabacco!” “Tuan, tembakau!”
Hoeberechts tidak datang hanya sekali. Ia datang berkali-kali. Pada awalnya, tidak mudah. Ia bahkan mengingat kedatangannya pada 1904.
“Bij mijn eerste aankomst vluchtten allen weg, doch de moed werd niet verloren.” “Ketika pertama kali saya datang, semua orang melarikan diri, tetapi saya tidak kehilangan keberanian.”
Ia kemudian duduk di tengah kampung, mendekati beberapa pemuda, berbicara dengan mereka, dan membagikan kacang kepada anak-anak.
“Ik haalde wat nootjes uit mijn zak, deelde ze uit aan de kinderen, en … de eerste schrik was er uit.”
“Saya mengambil beberapa kacang dari saku, membagikannya kepada anak-anak, dan… ketakutan pertama itu pun hilang.”
Pelan-pelan mereka mulai mengenalnya. Lalu mulai percaya. Dan pada 1909, perubahan itu sudah terlihat nyata.
“In 1907 waren hier gedoopten, nu zijn er 213.” “Pada tahun 1907 jumlah orang yang dibaptis di sini masih sedikit, sekarang sudah 213 orang.”
Hoeberechts sendiri mengingatkan: “Het is een werk, dat jaren vordert, jaren van taai geduld en volharding.” “Ini adalah pekerjaan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun, bertahun-tahun kesabaran dan ketekunan.”
Baca Juga:
Bukan sehari. Bukan sebulan. Bertahun-tahun. Hoeberechts tidak hanya mengajar di satu tempat.
Ia berjalan menemui orang-orang tua, para pemuda, ibu-ibu dan anak-anak. Menurutnya:
“De pastoor moet met allen in aanraking komen om het vertrouwen van allen te winnen.” “Seorang pastor harus berhubungan dengan semua orang untuk mendapatkan kepercayaan mereka.”
Itulah yang dilakukannya. Ia duduk bersama mereka. Berbicara. Mendengarkan. Memberikan katekismus. Dan tentu saja, anak-anak selalu menunggu kue dan roti. Seorang dermawan dari Maastricht bahkan berkali-kali mengirimkan pisau kecil.
“Wanneer een der catechismus-kinderen gedoopt wordt, krijgt het zulk een mesje cadeau.” “Ketika seorang anak katekismus dibaptis, ia mendapat pisau kecil sebagai hadiah.”
Benda sederhana itu begitu disukai. Para kepala kampung ikut meminta. Para perempuan meminta untuk memotong padi. Semua orang menginginkannya. Menjelang pukul 11 atau 12 siang, tibalah waktunya makan.
Hoeberechts duduk makan di tengah 35 anak katekismus, sementara banyak ibu memperhatikannya.
“Te midden van mijn 35 catechismuskinderen, en vele … moeders, tracht ik dan mijn boterham naar binnen te spelen.” “Di tengah 35 anak katekismus dan banyak ibu, saya berusaha menyantap roti makan siang saya.”
Baca Juga:
Tetapi anak-anak tahu satu hal: “De kinderen weten zeer goed, dat alles wat er overblijft aan brood, vleesch of koekjes, het hunne is.” “Anak-anak sangat tahu bahwa roti, daging, atau kue yang tersisa adalah milik mereka.”
Mereka menatap makanan itu dengan mata penuh harap. Hoeberechts kemudian menulis:
“Hebben de arme kleinen wel ongelijk?” Apakah anak-anak miskin itu benar-benar salah?”
Kalimat sederhana. Tetapi terasa dalam. Karena bagi anak-anak itu, sepotong roti bukan sekadar makanan. Itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Lima tahun sebelumnya orang-orang melarikan diri. Kini keadaan sudah berbeda.
Di Wailolon–Leloba telah berdiri tempat ibadah. Anak-anak mendapat pelajaran katekismus, dan pada malam hari mereka berkumpul untuk berdoa Rosario.
Dari anak-anak yang dulu berlari…kini lahir anak-anak yang datang sendiri untuk belajar. Inilah perubahan yang dilihat Hoeberechts dengan matanya sendiri. Setelah pekerjaan selesai, mereka bersiap pulang.
Baca Juga:
Kotak-kotak bekal telah kosong. Matahari sudah tinggi.Rumput begitu lebat sampai Hoeberechts sendiri harus berjalan paling depan membuka jalan.
“Met leege trommels wordt nu de terugreis aanvaard.” “Dengan kotak-kotak bekal yang sudah kosong, perjalanan pulang pun dimulai.”
Sekitar seperempat jam kemudian mereka sampai di Pantai Okka. Di bawah beberapa pohon besar mereka beristirahat. Tidak ada sungai. Tetapi mereka menggali lubang kecil di pasir.
Dan muncullah air tawar. “Weldra zoet water komt opborrelen.”
“Tidak lama kemudian air tawar muncul dari dalam pasir.” Setelah perjalanan panjang, anak-anak langsung turun ke laut.
“Weldra ligt mijn heele gevolg in zee te spartelen en is spoedig alle vermoeienis vergeten.” “Tak lama kemudian seluruh rombongan saya sudah bermain-main di laut dan segera semua kelelahan terlupakan.”
Untuk sesaat, tidak ada pendakian. Tidak ada jalan berbatu. Tidak ada panas. Tidak ada pekerjaan misi. Hanya laut, air tawar, pohon-pohon dan anak-anak yang bermain. Tetapi perjalanan belum berakhir.
Baca Juga:
Membaca “Kode Rahasia” Peta Perkawinan Adat 13 Lango Belen di Desa Wailolong, Ile Mandiri
Dari Pantai Okka mereka akan menuju. Waibaloen, lalu melewati Lewolery, dan akhirnya kembali ke Postoh. Dan di sanalah perjalanan dua hari Hoeberechts akan mencapai akhirnya Dari kampung yang dahulu ditakuti, menuju anak-anak yang menyambutnya.
Dari gunung, turun ke laut. Dari ketakutan, perlahan tumbuh kepercayaan. Bersambung ke Bagian 4 — WAIBALOEN sampai POSTOH.
SUMBER:
- Hoeberechts, “Een tweedaagsche tocht om den Ilimandiri,” dalam Berichten uit Nederlandsch Oost-Indië voor de leden van den Sint-Claverbond, 1909, bagian I
(Niet in den handel), ’s-Gravenhage: T. C. B. ten Hagen, hlm. 250–253.
Foto Ilustrasi dari akun FB penulis – Waton Bunga Retu
Leave a Reply