Material Fatigue dan Social Fatigue

Sospol
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Belajar bahasa Latin sebelum belajar filsafat itu sangat membantu mahasiswa. Memahami matematika dan fisika itu sangat membantu memahami logika dan filsafat, terutama pemikiran dari filsuf yang memiliki latar belakang keahlian primer fisika atau matematika.

Tahun 1984 kami mendapat kehormatan meninjau berbagai proyek strategis BJ Habibie, antara lain Laboratorium Uji Konstruksi (LUK) Puspitek Serpong. Saya tertarik pada demonstrasi cara kerja alat untuk mengukur daya tahan materi, misalnya besi baja, terhadap tekanan beban ekstrem.

Saya tertarik karena hanya saya sendiri yang bisa berbahasa Jerman dengan instruktur dari Jerman yang dalam menjelaskan cara kerja mesin pengujian selalu keluar kata-kata jorok dalam bahasa Jerman ‘Scheiße’. Ha ha ha. Dan peserta yang lain gak ngerti kalau si bule lagi maki-maki.

Baca Juga:

Merayakan (Ulang) Perbedaan

Ketika mengikuti program kursus bahasa Jerman untuk pendampingan kuliah bagi mahasiswa asing di Uni Hamburg, Prof Latour meminta kami memberi contoh penggunaan beberapa terminologi ilmiah, salah satu terminologi itu adalah “Ermüdung’ yang dalam bahasa Inggris berarti “fatigue” alias kelelahan. Dan saya menyebut ‘Materialermüdung”.

Wajah Prof Latour berseri, senang ada mahasiswa bisa langsung masuk ke dalam terma bahasa Jerman untuk academic purposes.

Sejak itu kata Materialermüdung terus menggema di kepala saya. Terma itu bisa dikonversi ke dalam bidang psikologi, sosiologi bahkan teologi: ada kelelahan psikologis, kelelahan sosiologis etc.

Baca Juga:

PR Besar Toleransi di Indonesia

Dalam suatu diskusi di UKDW Yogyakarta tentang fenomena intoleransi yang meningkat, saya jelaskan bahwa 

(1) memang benar pada suatu saat basis penyanggah multikulturalisme di Yogyakarta itu sangat lentur dan mampu menahan beban kemajemukan sosio-psikologis kota Yogya. 

(2) Namun saat ini beban sosial, psikologis, ekonomi dan agama yang overdosis sudah tak tertahankan lagi oleh basis penyanggah multikulturalisme yang pernah ada.

Jadi perlu ada studi tentang daya tahan atau daya elastis basis multikulturalisme Yogyakarta saat ini dalam menopang dan mengelola beban yang ada di atasnya.

Baca Juga:

Merawat Keberagaman Untuk Persatuan Bangsa

Pada waktu itu saya masih menganggap basis multikulturalisme itu hanya terdiri dari satu blok lapis material yang dalam bahasa pengujian daya tahan beban, akan retak dan patah secara bersama-sama.

Kemarin dalam pelacakan terbaru saya menemukan fakta atau pengetahuan baru bahwa basis penopang beban itu memiliki dua sisi  dimana: sisi atas mengalami compression dan sisi bawah mengalami tension yang memberi reaksi berbeda atas tekanan sosial (lihat gambar). 

Ketika ada beban, bahkan beban berlebih, lapis bahwa luluh bahkan retak dan bergerak ke arah luar hingga patah. Bagian yang patah dari penyanggah beban yang sama adalah lapisan bawah, bukan lapisan atas. 

Justru di lapisan atas terjadi gerakan merapat ke arah titik mati, atau yang dalam ilmu strategi perang Clausewitz disebut centre of gravity.

Baca Juga:

Kartu Merah untuk Rasisme Dalam Dunia Sepak Bola Indonesia

Jika disimpulkan (secara sederhana): jika terjadi peningkatan beban atas suatu fondasi sosial maka ada kelompok di lapis bawah yang akan pecah berantakan dan saling menjauhi, sementara kelompok di lapisan atas dari fondasi yang sama akan merapat ke pusat, misalnya “pusat kekuasaan” yang bertanggung jawab atas beban sosial di atasnya

 

Foto ilustrasi dari rri.co.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of