Serial Film Baru Netflix Untuk Ditonton Orang Tua dan Guru

Hobi
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Keberadaan media sosial, internet dan smartphone dan dampaknya bagi pertumbuhan remaja sedang digugat melalui film seri Adolescence. Film ini tayang perdana di Netflix pada tanggal 13 Maret 2025, langsung mencetak rekor besar setelah tayang akhir pekan keduanya, yang mencapai 66,3 juta views. 

Serial ini mengangkat pengaruh buruk media sosial dalam menyebarkan perundungan siber dan maskulinitas toksik terhadap remaja laki-laki sehingga mereka membenci perempuan. Film ini menggali sisi gelap radikalisasi budaya, pengaruh media sosial, internet dan bagaimana lingkungan sosial membentuk mereka. 

Stephen Graham salah satu creator dan pemeran utama film ini mengatakan pada dasarnya kisah film ini tidak berdasarkan peristiwa nyata. Namun ia mengaku ide untuk serial ini muncul dari pemberitaan tentang anak laki-laki muda yang terlibat kejahatan menggunakan pisau. 

Baca Juga: 

Ai Benga Olha dan Kritik Sosial

“Ada insiden nyata dimana seorang anak laki-laki muda menikam seorang gadis hingga tewas.  Ini mengejutkan. Apa yang sedang terjadi? Insiden ini muncul lagi beberapa kali. Saya ingin menyoroti ini, terutama untuk memahami bagaimana bisa sampai di titik ini,” kata Graham. 

Inilah yang melatarbelakangi Stephen Graham dan Jack Thorne menulis serial ini dan disutradarai oleh Philip Barantini. Bagi mereka situasi ini sangat mengkhawatirkan dan untuk mengatasinya situasi ini harus dipahami terlebih dahulu. Dan serial ini adalah bagian dari upaya tersebut.

Oleh karena itu, alur film ini jelas mengacu pada isu toxic masculinity dan dampaknya di era digital. Kini sedang terjadi radikalisasi budaya “Manosphere” yang dipelopori oleh sebuah komunitas daring yang dipenuhi narasi maskulinitas dengan paham konservatif ekstrim dan misoginis yang dapat berujung pada kebencian terhadap perempuan.

Dalam sebuah acara radio, Jack Thorne film Adolescence ingin secara detail memotret kemarahan anak laki-laki melalui Owen Cooper yang berperan sebagai Jamie. Film tersebut berhasil menggambarkan Jamie telah terkena indoktrinasi ajaran dari orang seperti Andrew Tate atau suara yang lebih berbahaya dari Andrew Tate.

Baca Juga: 

Menerobos Stigma Terhadap Perempuan : Menjadi Saras dalam Film Salawaku

Andrew Tate adalah seorang influencer media sosial yang terkenal karena pandangan kontroversialnya tentang maskulinitas dan perempuan yang sangat berbahaya. Diketahui, pelaku pembunuhan perempuan di inggris dipengaruhi oleh pandangan kelompok ini melalui media sosial mereka. 

Oleh karena itu, film ini berusaha sangat detail memotret permasalahan dan fenomena ini karena masih dihadapi dan berbahaya hingga hari ini. Maka salah satu sasaran film ini memancing orang tua, paman, bibi, guru sekolah untuk terlibat dalam diskusi, juga di media sosial tentang bahayanya fenomena ini di media sosial. 

Serial Adolescence terdiri dari empat episode yang mengisahkan Jamie Miller, remaja laki-laki berusia 13 tahun yang diringkus polisi dini hari di rumahnya atas tuduhan membunuh teman sekelasnya, Katie Leonard.

Baca Juga: 

Spiderman dari Parepare

Belakangan diketahui Jamie terjerumus dalam pengaruh influencer misoginis dan menjadi korban perundungan daring karena dianggap sebagai seorang “incel” singkatan dari involuntary celibates . Ini adalah istilah untuk anak laki-laki yang sulit mendapatkan pacar dan menyalakan perempuan. 

Di film ini orang tua Jamie mengakui bahwa Jamie sering mengurung diri dikamar dan menghabiskan waktunya dengan komputer. Mere menira anak mereka aman. Pada hal Jamie diam-diam mengalami radikalisasi. Pada saat ditangkap Jamie menolak bersalah, namun kemudian tidak dapat mengelak setelah ada bukti pada rekaman CCTV. 

Salah satu episodenya diceritakan, pembunuhan Katie berawal dari interaksi media sosial . Katie menulis komentar dengan menggunakan emoji dalam unggahan instagram Jamie yang menyiratkan bahwa Jamie adalah seorang incel. Ini adalah bentuk cyberbullying yang kemudian menyulut kemarahan dan mendorong Jamie melakukan pembunuhan. 

Baca Juga: 

Empat Cara Mencegah Perilaku Bullying di Lingkungan Sekolah

Tampaknya film ini berhasil menggugah kesadaran publik di Inggris dan didunia tentang bahaya media sosial. Publik misalnya meminta pemerintah Inggris melarang remaja dibawah 16 tahun memiliki akun media sosial.  Menteri Pendidikan Inggris Bridget Phillipson sedang memikirkan larangan penggunaan smartphone di sekolah sekolah di Inggris. 

Bagaimana dengan orangtua dan guru di Indonesia, sudahkah menonton film ini? Orang tua dan guru di Indonesia perlu menonton film ini agar memiliki pemahaman yang lebih baik tentang tantangan yang dihadapi oleh remaja dan lebih dari itu dapat memberikan dukungan dan pendampingan sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan mereka.

Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis / Foto dari : netflix.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of