Oost Flores: 1913–1914: Ketika Arsip Belanda Mencatat Gejolak di Wilayah Larantoeka

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Membaca kembali sebuah catatan lama dari lebih seabad silam. Pada 1914, sebuah terbitan berbahasa Belanda memuat catatan mengenai berbagai gejolak di wilayah-wilayah pemerintahan Hindia Belanda. 

Di antara halaman-halamannya, terdapat laporan tentang Oost-Flores—Flores Timur—khususnya wilayah Larantoeka pada 1913 dan 1914. Buku tersebut berjudul “Onlusten in de Buitenbezittingen”, karya C. Lulofs. 

Laporan ini menarik bukan hanya karena mencatat bentrokan bersenjata, tetapi juga karena menyebut nama tempat, tokoh, kewajiban kerja, dan peristiwa yang memperlihatkan ketegangan antara masyarakat setempat dan pemerintahan kolonial.

Namun, perlu diingat: catatan ini ditulis dari sudut pandang kolonial Belanda. Karena itu, istilah yang digunakan di dalamnya perlu dibaca secara kritis.

1913: Riang-Kottang, Riang-Nara, dan Lamatoe.

Laporan itu mencatat tanggal: “Op 3 October 1913…”  “Pada 3 Oktober 1913…”

Pada hari itu, sekelompok polisi bersenjata yang sedang berada di antara Riang-Kottang dan Riang-Nara, di wilayah Lewotala, diserang.

Naskah menyebut: “7 gewapende politiedienaren sneuvelden”  “Tujuh anggota polisi bersenjata gugur.”

Selain itu, delapan karabin dan 525 butir peluru dilaporkan hilang. Sisa patroli kemudian mundur ke Larantoeka. Belanda lalu memanggil seorang perwira bernama: “Luitenant de Vries” “Letnan de Vries.”

Bersama pasukan dari Adonara, ia bergerak menuju kampung Lamatoe. Pada 5 Oktober, menurut laporan tersebut, pasukan kolonial berhasil menguasai kampung yang disebut telah diperkuat pertahanannya.

Naskah menulis: “22 verzetslieden nedergelegd”  “22 orang yang melakukan perlawanan tewas.”

Laporan itu juga mencatat kerugian di pihak Belanda: seorang tewas dan enam orang terluka.  Di sekitar Ili-Mandiri, sejumlah kepala setempat kemudian datang ke posto, menyatakan tunduk. Pada 8 Oktober, bentrokan kembali terjadi di Wailolong. 

Sumber menyebut: “De vijand liet 4 dooden in onze handen.”  “Pihak lawan meninggalkan empat orang tewas di tangan kami.”

Pada 12 Oktober, Letnan de Vries bergerak lagi ke wilayah Lewotala.  Kampung-kampung yang dijumpai telah ditinggalkan penghuninya.Salah satu tokoh yang disebut dalam laporan ialah: “Regi Doreng”

Menurut laporan itu, Regi Doreng akhirnya diserahkan oleh para kepala Lekloewoe. Ia dituduh menghasut penduduk agar tidak membayar pajak dan melarang kerja wajib.

1914: Lewingo dan kampung Lewero.

Memasuki 1914, laporan beralih ke wilayah “het kakangschap Lewingo”—kakangschap atau wilayah Lewingo.

Pada paruh kedua Juni, masyarakat pegunungan melakukan perlawanan. Pemicu yang dicatat penulis ialah penduduk kompleks kampung Lewero tidak menjalankan kerja wajib selama sekitar satu setengah bulan.

Ketika patroli sebelas polisi bersenjata tiba di bawah komando: “den detachementscommandant Marks”  “Komandan detasemen Marks,” patroli tersebut diserang. 

Naskah menyebut: “Drie gewapende politiedienaren sneuvelden.” “Tiga anggota polisi bersenjata gugur.”

Patroli mundur ke tepi jurang dan bertahan hingga pukul sepuluh malam sebelum bergerak ke Lewolaga.  Secara keseluruhan, laporan mencatat lima polisi bersenjata Belanda gugur, sedangkan Marks dan empat polisi lainnya terluka. 

Pada 27 Juni, komandan militer wilayah: “den Overste Geertsema Beckering” “Kolonel Geertsema Beckering,”

Bergerak bersama empat kelompok infanteri dan merebut Lewero.Di sinilah sumber menyebut nama seorang prajurit Belanda yang gugur secara khusus:

“Europeesch sergeant van den Berg” “Sersan Eropa Van den Berg.”

Naskah menyatakan bahwa Van den Berg gugur, sementara dua fusilier terluka. Pada bulan-bulan berikutnya, laporan mencatat penyerahan sejumlah tokoh. 

Di antaranya: “Doeroe Basa van Lewoloeo en Lera Boleng”   “Doeroe Basa dari Lewoloeo dan Lera Boleng.” serta  “Doeroe Koli en Koeda Kopong Pati”  “Doeroe Koli dan Koeda Kopong Pati.”

Pada 23 September, dua nama terakhir itu dilaporkan menyerahkan satu karabin Beaumont. Penduduk Lewero sendiri disebut telah menyerah pada Agustus.

Membaca sejarah dengan ingatan dan kebijaksanaan.

Lebih dari seabad telah berlalu. Nama-nama tempat dan tokoh itu kini hadir kembali melalui lembaran arsip yang ditulis oleh pihak kolonial. 

Di balik angka korban, istilah militer, dan laporan penyerahan, terdapat masa ketika masyarakat setempat menghadapi perubahan kekuasaan, kewajiban kerja, pajak, serta benturan kepentingan.

Sejarah tidak seharusnya dibaca untuk mewariskan kebencian atau menghakimi keturunan siapa pun. 

Ia perlu dibaca agar kita memahami bahwa masa lalu memiliki banyak sisi, sementara arsip yang bertahan sering kali lebih banyak merekam suara penguasa daripada suara masyarakat yang mereka kuasai.

Mengingat sejarah bukan berarti memusuhi masa lalu. Justru dengan keberanian membaca sumber secara kritis, kita menjaga ingatan agar tidak hilang, tidak dipelintir, dan tidak diwariskan hanya sebagai cerita sepihak.

Sumber: 

  1. Lulofs, “Onlusten in de Buitenbezittingen”. Batavia–Weltevreden: G. Kolff & Co., 1914. Diterbitkan ulang dari “Tijdschrift voor het Binnenlandsch Bestuur”, No. 6, 1914, bagian “Onderafd. Oost-Flores (Larantoeka)”.

Keterangan foto hanya ilustrasi.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of