Apakah Koda Bisa Ditulis Dalam Bentuk Buku?

Uncategorized
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Di tempat saya berasal, di Adonara, ada hal-hal yang tidak diwariskan melalui buku.

Sejarah tidak selalu ditulis di atas kertas. Nama-nama leluhur, asal-usul sebuah suku, kisah sebuah tanah, pesan-pesan para tetua, bahkan doa-doa adat-sebagian besar diwariskan melalui tutur.

Dari mulut ke telinga. Dari orang tua kepada anak. Dari tetua kepada mereka yang dianggap telah siap menerimanya. Ada sesuatu yang menarik dari cara orang-orang tua kita mewariskan pengetahuan.

Tidak semua hal boleh ditulis. Bahkan ada koda-tutur adat atau doa-doa tertentu-yang dipercaya tidak boleh dituangkan begitu saja ke dalam tulisan.

Bagi orang modern, mungkin ini terasa aneh. Bukankah menulis adalah cara terbaik untuk mengabadikan sesuatu?

Bukankah kalau tidak ditulis, suatu hari semuanya akan hilang? Tetapi mungkin, orang-orang tua kita mempunyai cara pandang yang berbeda.

Mereka seakan ingin mengatakan, Tidak semua pengetahuan boleh diperlakukan sebagai informasi. Ada pengetahuan yang harus dijalani sebelum dipahami.

Ada kata-kata yang tidak cukup hanya dibaca. Ada koda yang baru mempunyai makna ketika keluar dari mulut orang yang tepat, pada waktu yang tepat, dalam keadaan batin yang tepat.

Saya pernah mendengar sebuah kisah dari tanah asal kami. Konon, pernah ada seseorang yang mencoba menuliskan koda dan hal-hal yang dianggap sakral.

Ia ingin mengabadikannya dalam tulisan. Mungkin niatnya baik. Mungkin ia berpikir, dengan menuliskannya, generasi setelahnya tidak akan kehilangan warisan leluhur.

Tetapi kemudian ia mengalami sebuah mimpi. Dalam mimpi itu, ia diminta membaca sesuatu dalam keadaan gelap. Ia mencoba membacanya.

Tetapi bagaimana mungkin membaca dalam kegelapan? Tidak ada cahaya. Tidak ada petunjuk. Tidak ada jalan pintas. Lalu seolah-olah muncul sebuah pertanyaan, “Kalau semuanya gelap, apakah engkau masih bisa membaca?”

Pertanyaan itu bagi saya jauh lebih dalam daripada sekadar persoalan bisa atau tidak bisa membaca. Sebab mungkin yang sedang diuji bukan matanya. Yang sedang diuji adalah batinnya.

Orang yang memiliki mata mungkin mampu melihat tulisan. Tetapi belum tentu mampu memahami maknanya.

Orang yang mampu menghafal banyak kata belum tentu memahami koda. Dan orang yang memiliki banyak pengetahuan belum tentu memiliki kebijaksanaan. Dari kisah itu, saya menangkap sebuah pesan yang sangat dalam. Yang dicari bukan sekadar kata-kata, tetapi terang untuk memahami kata-kata.

Dalam kebudayaan kita, ada ungkapan bahwa orang yang hatinya terang, yang pikirannya luas, yang sungguh-sungguh mencari, pada akhirnya akan menemukan.

Tetapi menemukan tidak dilakukan dengan jalan instan.Ia membutuhkan perjalanan. Mendengar. Mengamati. Bertanya. Menunggu. Mengalami. Menghormati.

Dan terutama, menyiapkan diri. Mungkin inilah alasan mengapa pengetahuan adat tidak semuanya ditulis. Sebab ketika sesuatu ditulis, kita bisa mendapatkannya dengan cepat.

Kita bisa membacanya tanpa harus mengalami perjalanan yang panjang. Kita bisa mengetahui kalimatnya tanpa memahami jiwanya.

Kita bisa menghafal koda tanpa menjadi manusia yang pantas mengucapkannya. Di titik ini saya teringat pada Carl Gustav Jung, seorang tokoh besar dalam psikologi.

Jung memandang mimpi bukan sekadar bunga tidur. Dalam psikologi analitiknya, mimpi dapat menjadi jalan bagi ketidaksadaran untuk berbicara kepada kesadaran. Mimpi kadang hadir seperti cermin. Ia memperlihatkan sesuatu yang selama ini tidak kita lihat ketika kita terjaga.

Karena itu, jika kisah tentang seseorang yang bermimpi membaca dalam kegelapan ini kita lihat melalui kacamata Jung, pertanyaannya menjadi semakin menarik.

Apa arti “gelap” itu? Mungkin gelap bukan ketiadaan cahaya helu Enstein mari ne. Hihi.

Mungkin gelap adalah keadaan ketika seseorang memiliki pengetahuan, tetapi belum memiliki kebijaksanaan.

Mungkin gelap adalah ketika seseorang ingin mendapatkan jawaban tanpa menjalani proses pencarian. Mungkin gelap adalah ketika kita merasa sudah tahu hanya karena kita sudah membaca.

Dan mungkin “terang” bukan sekadar kemampuan melihat. Terang adalah kemampuan memahami. Ada perbedaan besar antara mengetahui dan mengerti. Kita bisa mengetahui nama leluhur.

Tetapi belum tentu memahami perjuangannya. Kita bisa menghafal sebuah doa. Tetapi belum tentu memahami tanggung jawab yang lahir dari doa itu. Kita bisa membaca sejarah.

Tetapi belum tentu mengerti mengapa sejarah itu harus diwariskan. Maka barangkali orang-orang tua kita dahulu sudah memahami sesuatu yang sekarang kembali banyak dibicarakan dalam psikologi dan ilmu pengetahuan.

Pengetahuan tidak hanya berada di kepala. Pengetahuan juga hidup dalam pengalaman, hubungan, ingatan kolektif, simbol, ritual, dan cara seseorang menjalani hidup.

Penelitian tentang masyarakat Lamaholot sendiri menunjukkan bahwa koda memiliki kedudukan penting dalam kehidupan budaya. Koda bukan sekadar “kata” dalam arti biasa, tetapi bagian dari cara masyarakat menyimpan dan menyampaikan nilai, sejarah, norma, dan pandangan hidup.

Karena itu, saya mulai melihat larangan menuliskan koda dari sudut yang berbeda. Mungkin itu bukan semata-mata larangan.

Mungkin itu adalah cara untuk menjaga agar pengetahuan tidak terlepas dari proses pembentukan manusia.Sebab ada pengetahuan yang kalau diberikan terlalu cepat justru kehilangan maknanya.

Seperti seorang anak yang diberi peta sebelum pernah berjalan. Ia memang memiliki peta. Tetapi belum tentu tahu jalan. Dan mungkin itulah rahasia dari budaya tutur.

Koda tidak sekadar diwariskan. Koda dicari. Ia ditemukan sedikit demi sedikit. Melalui percakapan dengan orang tua. Melalui duduk bersama para tetua.

Melalui pengalaman hidup. Melalui kesalahan. Melalui perjalanan. Melalui kesediaan untuk mendengar lebih banyak daripada berbicara. Sampai suatu hari seseorang tidak lagi hanya mampu mengucapkan koda.

Ia mulai menjadi manusia yang hidup menurut koda itu. Barangkali itulah makna terdalam dari kisah tentang membaca dalam kegelapan. Ketika cahaya tidak ada, tulisan menjadi tidak berguna.

Tetapi bagi hati yang telah menemukan terang, bahkan dalam kegelapan pun ia masih mampu mencari arah.

Dan mungkin…warisan terbesar dari leluhur bukanlah teks yang bisa kita simpan di rak buku. Melainkan terang yang mereka tinggalkan di dalam diri kita. Sebab tulisan bisa diwariskan kepada siapa saja.

Tetapi kebijaksanaan hanya ditemukan oleh mereka yang mau berjalan mencarinya. Dan di Adonara, mungkin sejak dahulu para leluhur sudah tahu:

Tidak semua yang sakral harus ditulis. Ada yang harus didengar.   Ada yang harus dialami. Ada yang harus direnungkan. Dan ada yang hanya akan ditemukan oleh hati yang cukup luas untuk mencarinya.

Moripo di koda, matano di koda. Hidup bermula dari kata. Dan mungkin, hidup juga berakhir dengan pertanggungjawaban atas kata-kata yang pernah kita ucapkan.

Ake glupa ngopi.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of