Eposdigi.com – Guru adalah sosok dalam masyarakat yang ikut bertanggung jawab dalam pewarisan peradaban, pewarisan budaya dalam masyarakat. Sejalan dengan semakin rumitnya peradaban masyarakat, proses pewarisan kebudayaan yang pada awalnya hanya dikerjakan oleh orang tua, mulai dilakukan oleh pribadi lain di luar orang tua.
Ini terjadi karena perkembangan pengetahuan masyarakat setelah masyarakat berinteraksi dengan alam semesta. Apalagi dengan munculnya orang-orang pintar yang adalah elite dalam masyarakat, yang secara khusus mengabdikan diri untuk memahami gejala-gejala dalam kehidupan sosial manusia dan alam semesta.
Baca Juga:
Seminar sehari : Guru dan Kesadaran Diri; Pintu Menuju Pendidikan Berkualitas
Proses yang dikerjakan oleh orang-orang pintar tersebut menghasilkan pengetahuan bahkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan baru dalam masyarakat yang semakin rumit. oleh karena itu, orang tua tidak lagi mampu mewariskan pengetahuan, ilmu pengetahuan, bahkan kebudayaan tersebut kepada anaknya sendiri.
Pada titik inilah, elite dalam masyarakat membutuhkan figur yang juga menguasai khasanah pengetahuan, khasanah ilmu pengetahuan, khasanah kebudayaan masyarakat, untuk mengajari generasi muda bahkan mewariskan pengetahuan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan masyarakat tersebut pada generasi muda pewaris mereka.
Figur itu adalah figur guru yang kita kenal sekarang. Apalagi proses pewarisan pengetahuan, ilmu pengetahuan, kebudayaan bukan proses yang selalu menyenangkan. Proses pewarisan memerlukan prasyarat, seperti kesediaan bahkan pengorbanan dari generasi muda.
Baca Juga:
Manifesto Pendidikan dari Guru Besar ITB dan Momentum Perubahan di Bidang Pendidikan
Oleh karena itu, figur yang berperan dalam proses pewarisan tidak hanya menguasai pengetahuan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, melainkan harus juga menguasai psikologi generasi muda, psikologi belajar. Jadilah figur guru semakin dibutuhkan dalam konteks tersebut.
Tapi siapakah guru yang pertama dalam sejarah peradaban umat manusia? Tulisan ini bermaksud mencari jawaban dari pertanyaan tersebut.
Sosok guru pertama di dunia
Aktivitas pengajaran, bahkan sekolah dalam bentuk yang paling awal sudah dikenali sejak tahun 3.000 sebelum Masehi di peradaban Mesir kuno dan Mesopotamia. Di tempat ini para pendeta mengajari anak laki-laki membaca, menulis, Astrologi, Matematika bahkan Kedokteran.
Baca Juga:
Namun seperti dilansir pada laman wonderopolis, para pendeta ini tidak disebut guru, karena meskipun mereka menguasai apa yang mereka ajarkan namun tidak ada jejak dalam sejarah, di mana murid-murid mereka mengakui para pendeta ini sebagai guru, bahkan mereka juga tidak meninggalkan ajaran tertentu yang spesifik.
Julukan sebagai guru pertama justru diberikan kepada Konfusius. Konfusius dihormati sebagai guru pertama karena kontribusinya pada pendidikan dan pengajaran berdasarkan etika dan moral meskipun ia tidak pernah belajar dari seorang guru. Ajaran Konfusius kemudian menjadi dasar bagi sistem pendidikan Tiongkok hingga sekarang.
Karena pengajarannya, ia berusaha menjadi teladan bagi murid-muridnya. Hal ini mengakar pada salah satu ajaran moralnya. Menurut Konfusius, penguasa dan guru harus menjadi pribadi yang memiliki integritas dan menjadi teladan dalam masyarakat. Oleh karena itu, mereka harus hidup hemat dan memiliki moral yang tinggi.
Baca Juga:
Nampaknya ini yang membuat ia diakui oleh murid-muridnya sebagai guru, meskipun ia tidak secara resmi menjadikan mereka muridnya. Sampai akhir hayatnya Konfusius tidak memiliki murid yang diangkat secara formal untuk melanjutkan ajarannya. Namun hingga sekarang pengaruh kuat ajarannya masih terasa dan diteruskan oleh pengikut-pengikutnya.
Konfusius lahir tahun 551 sebelum Masehi. Sejak kecil ia sudah ditinggal ayahnya karena meninggal. Ia diasuh oleh Ibunya dan mereka hidup dalam kondisi ekonomi keluarga yang memprihatinkan. Oleh karena itu ia pun tidak pernah sekolah.
Pada saat itu yang boleh mengenyam pendidikan adalah anak laki-laki dari keluarga elit dalam masyarakat; terpandang dan kaya raya. Meskipun demikian ia belajar secara otodidak membaca dan menulis, belajar musik, sejarah, hingga Matematika. Ia berpendapat setiap manusia harus belajar, dan pendidikan adalah jalan menuju kebajikan.
Baca Juga:
AI untuk Guru: Transformasi dalam Menyiapkan dan Mengelola Pembelajaran
Karena pendapat ini, ia kemudian mengajarkan apa yang ia ketahui dari proses belajar mandirinya. Oleh karena itu, pengajarannya diikuti oleh semua kalangan, kaya maupun miskin. Ini tidak hanya dia lakukan di tempat tinggalnya. Di usia 56 tahun, ia memutuskan untuk mengembara mencari tempat yang membutuhkan pengajarannya selama 11 tahun.
Di pengembaraannya, Konfusius juga berinteraksi dengan pengembara lainnya. Sekembalinya Konfusius dari pengembaraan, ia tidak hanya mengajar, melainkan memutuskan juga untuk menulis. Tulisan ini kemudian menjadi landasan dari ajaran filosofi Konfusius yang diikuti oleh pengikutnya hingga sekarang.
Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis / Foto: ethics.org.au
Leave a Reply