Di 8 Daerah Ini Banyak SD Negeri Kekurangan Murid Baru, Pemerintah Harus Melakukan Apa?

Nasional
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Dari pantauan kami terhadap Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di Sekolah Dasar tahun 2025 di 8 daerah sejak proses SPMB dibuka tanggal 2 Juni hingga kurang lebih tanggal 22 Juni, teramati fenomena yang menarik. Banyak Sekolah Dasar Negeri (SDN) di 8 daerah tersebut mulai kekurangan murid baru. 

Dari Jawa Timur misalnya tercatat SDN Wayut 1 Madiun pada tanggal 20 Juni 2025, baru dapat 1 orang murid baru. Selama 6 tahun belakangan sekolah ini memang cenderung mengalami penurunan jumlah pendaftar sehingga saat ini jumlah murid dari kelas 2 hingga kelas 6, hanya terdiri dari 5 orang murid. 

Kondisi yang sama juga terjadi di SDN Wonorejo Karang Anyar Jawa Tengah. Di sekolah ini hingga tanggal 22 Juni 2025, murid baru yang mendaftar baru ada 5 orang. Penurunan jumlah pendaftar juga terjadi selama lima tahun terakhir sehingga di kelas 2 hingga kelas 6 paling banyak hanya ada 10 murid. 

Baca Juga : 

Ini Cara Memilih Sekolah untuk Anak, Pendaftaran Murid Baru di Sekolah Swasta Sudah Dibuka

Kekurangan jumlah murid baru juga terjadi di SDN 137 Palembang, padahal sekolah ini, hingga tahun 2017 masih termasuk sekolah favorit. Kini baru ada 4 orang murid baru yang mendaftar. Penurunan jumlah pendaftar sudah mulai terjadi dalam pendaftaran murid baru tahun yang lalu, di mana  hanya ada 19 murid yang mendaftar. 

Krisis jumlah murid baru juga terjadi di Kota Semarang di mana hingga tanggal 22 Juni 2025 ada 36 SDN tidak memenuhi 50 persen kuota yang ditetapkan. Oleh karena itu, wali kota Semarang Agustina Wilujeng, memperpanjang masa pendaftaran murid baru di kota tersebut. 

Kondisi yang sama juga terpantau di Kabupaten Sleman Yogyakarta, di Kabupaten Gunung Kidul,  di Kota Denpasar, dan di Kota Depok Jawa Barat. Di Kabupaten Sleman misalnya ada 56 SDN belum memenuhi minimal rombel. Ada sekolah yang baru mendapatkan 6 murid baru yang mendaftar padahal satu rombel ditetapkan 20 orang murid. 

Baca Juga : 

Baru. Anak Sekolah dengan Prestasi Rendah dalam Bidang Studi Matematika Dapat Berobat di Rumah Sakit Ini

Hal yang sama juga terjadi di Denpasar. Di kota ini, ada 166 SDN yang belum memenuhi kuota penerimaan murid baru yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan setempat, di mana 1 rombel ditetapkan 36 orang murid. 

Kondisi kekurangan pendaftar murid baru, juga terjadi di Kabupaten Gunung Kidul. Di wilayah ini selain banyak SDN tidak memenuhi jumlah kuota, ada 5 SDN yang hingga tanggal 22 Juni 2025 belum ada murid baru yang mendaftar.  

Kondisi yang sama juga dilaporkan oleh Dinas Pendidikan Kota Depok. Di wilayah ini hingga akhir masa pendaftaran, masih tersisa 968 kuota murid baru yang belum terisi, di 96 SDN. Kondisi ini sudah terjadi sejak lima tahun pendaftaran murid baru belakangan ini. 

Baca Juga : 

Murid Finlandia Mulai Tinggalkan Perangkat Digital dalam Proses Belajar Mengajar

Pendaftar SDN Cenderung Menurun?

Dari data yang kami himpun, hanya ada satu daerah yakni Kabupaten Gunung Kidul yang tidak hanya melaporkan data perkembangan pendaftar murid baru di SDN-nya melainkan juga Sekolah Dasar Swasta (SDS), meskipun kami hanya mengambil data mengenai perkembangan pendaftar di SDN saja. 

Ini memang kecenderungan Dinas Pendidikan yang cenderung hanya memberi perhatian pada sekolah negeri. Lebih dari itu, data memang menunjukkan bahwa pendaftaran SDN memang cenderung menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun. 

Kecenderungan ini justru terjadi pada saat di mana pemerintah menerapkan sekolah gratis bagi murid untuk pendidikan dasar kurang lebih satu dekade ini. Ada apa dengan Sekolah Dasar Negeri kita? Ada apa dengan Orang Tua murid kita? Kenapa tidak lagi memilih sekolah negeri kita sebagai tempat bagi anaknya menuntut ilmu? 

Baca Juga : 

Menyiapkan Anak Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar Memasuki Sekolah Baru

Atau, apakah karena jumlah SDN terlalu banyak di suatu tempat, sementara populasi anak usia sekolah cenderung menurun di daerah tersebut? Atau gabungan dari masalah-masalah tersebut? Ada masalah kemerosotan mutu sekolah negeri, ada masalah jumlah SD Negeri yang terlalu banyak di suatu wilayah dan penurunan populasi anak usia sekolah. 

Kondisi ini hendaknya menjadi refleksi bagi pemerintah; Dinas Pendidikan, Pengawas Sekolah dan Kepala Sekolah Dasar Negeri. Jika masalahnya adalah gabungan dari masalah-masalah tersebut maka pada saat yang sama pemerintah harus melakukan beberapa langkah untuk memperbaiki keadaan.

Baca Juga : 

Riset Ini Mengungkap Mengapa Prestasi Murid pada Mata Pelajaran Sains dan Matematika Cenderung Rendah

Langkah  pertama yang dilakukan pemerintah adalah segera mengambil tindakan untuk meningkatkan mutu sekolah-sekolah negeri kita melalui upaya penguatan pendidikan karakter, mengupayakan pengajaran yang unggul dalam hal literasi, numerasi dan sains dan teknologi, dengan penyediaan fasilitas penunjang, termasuk fasilitas untuk pendidikan sains. 

Langkah lain yang sangat perlu dilakukan untuk peningkatan mutu sekolah adalah mendorong peningkatan kualifikasi guru minimal Diploma IV atau S1, sambil tetap menyediakan program pelatihan rutin, pertukaran pengalaman, mendorong guru untuk terus belajar, pengembangan kompetensi dan mengupayakan kesejahteraan guru. 

Di samping itu, untuk peningkatan mutu, diperlukan juga perbaikan sarana dan prasarana, termasuk peningkatan infrastruktur digital sekolah, merenovasi sekolah-sekolah agar menjadi lebih bersih, lebih layak, agar para murid dapat belajar dalam suasana yang lebih nyaman. 

Baca Juga : 

Kekerasan Masih Marak di Sekolah karena Belum Munculnya Kepedulian dan Empati Sekolah pada Kesejahteraan Mental Murid

Jika masalahnya adalah letak sekolah yang berdekatan di satu pihak dan di pihak lain populasi anak usia sekolah berkurang misalnya karena keberhasilan program pemerintah seperti keluarga berencana di suatu daerah maka langkah kedua yang dilakukan pemerintah adalah konsolidasi, penggabungan aktivitas, alih fungsi bangunan dan optimalisasi fasilitas. 

Langkah ini akan berdampak pada optimalisasi pelayanan pada murid, peningkatan efisiensi termasuk penghematan sumberdaya sekaligus. Harusnya langkah-langkah ini sudah dilakukan oleh pemerintah sejak beberapa tahun yang lalu karena masalah ini sudah terjadi sejak awal dekade ini hingga sekarang. 

Baca Juga : 

Kasus Mata Murid SDN 236 Gresik Dicolok Pakai Tusuk Bakso, Menggambarkan Kekerasan di Sekolah Masih Marak

Kita tunggu langkah konkret pemerintah dalam hal ini. Yang paling mendesak adalah mengupayakan pendidikan gratis sekaligus bermutu. Karena hanya melalui pendidikan bermutu-lah masa depan lebih baik yang dibayangkan Orang Tua, lebih mungkin terwujud. Itulah peran yang sangat ditunggu dari negara. 

Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis / Foto ilustrasi : blok-a.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of