Eposdigi.com- Kabe kakak, kabe arik, kabe amak, kabe inak. Lewo tanah anabahi, pi tobo lodonet, dei gere. Selamat malam. Mari kita siapkan hati dan batin kita untuk melakukan renungan malam pergantian tahun 2022 menuju tahun 2023. Mari kita ambil sikap duduk yang baik dalam proses perenungan ini.
Kaka ari wahangkae, tidak terasa tahun 2022 hampir selesai. Bagaimana kehidupan kita di tahun 2022? Apakah Lancar? Penuh berkah dan kebahagiaan? Atau adakah kerikil kecil yang menjadi batu sandungan?
Sebelum menyapa tahun 2023, mari kita menoleh sejenak ke belakang untuk melihat pencapaian atau hal-hal sendu apa yang sudah terjadi dalam hidup kita.
Kadang, melihat sebentar ke belakang bisa menjadi satu cara untuk semakin bersyukur. Atau mungkin sebuah momentum besar, mundur sedikit untuk melesat lebih jauh ke depan.
Mari, coba luangkan waktu sebentar untuk merenung dan mengingat banyak hal yang terjadi dalam hidup kita di tahun 2022. Mari kita flashback, melihat peristiwa atau kejadian apa saja yang sungguh membekas di tahun 2022 ini.
Kaka ari wahangkae, sudahkah kita menjumpai pertanyaan “Apakah kamu bahagia ketika bertemu dengan kerabat atau kenalan?” Atau malah sebaliknya, seolah kita dicecar dengan berbagai macam pertanyaan yang tidak masuk di akal, yang mungkin sangat menyudutkan!
Gimana? Udah punya pacar? Udah dapet kerja? Berapa umurnya? Kapan nikah? Ko belum nikah-nikah? Belum laku atau bagaimana?
Apakah kita pernah dicecali pertanyaan-pertanyaan demikian? Seolah hidup seperti pasar. Yakni antara penjual dan pembeli. Laku atau tidak lakuknya. Sungguh menyedihkan bukan?
Tapi bukan itu point pentingnya, bukan juga point utamanya.
Mari, coba luangkan waktu sebentar untuk merenung dan mengingat banyak hal yang terjadi dalam hidup kita di tahun 2022. Mari kita buka kembali rencana-rencana yang kita buat sebelumnya.
Apakah ada di antara kita yang rencana dan harapannya belum bisa tercapai? Mungkin ada yang ingin menurunkan berat badannya, “olahraga dengan berlari, joging, mengurangi porsi makan, dll.
Namun belum menunjukkan hasil yang signifikan. Atau mungkin malah sebaliknya, berat badannya semakin naik. Coba cek, apakah mungkin usahanya belum terlalu tekun? Sehingga harapan tak sesuai dengan kenyataan.
Apakah ada yang berusaha mencari jodoh, namun tak kunjung kesampaian? Apakah ada yang sudah mengungkapkan perasaannya, namun bertepuk sebelah tangan, dengan alasan. “Maaf, kamu terlalu baik, kita temanan saja.” Begitulah kata si dia.
Atau apakah ada yang menunggu pesan singkat dari ia yang mendekatimu “Aku mencintaimu, maukah kau jadi pacarku? Tentu menyebalkan bukan, menunggu sesuatu yang tidak pasti. Menunggu dia yang tidak merasa ditunggu. Entah kapan datangnya!
Tidak apa-apa, mungkin belum saatnya.
Apakah ada yang berusaha mencari kerja, namun tak kunjung mendapatkan? Apakah ada yang sedang menunggu panggilan kerja, namun tak kunjung mendengar kabar baik? Atau apakah ada yang mempunyai harapan agar gajinya dinaikan, namun masih stuck di situ-situ saja? Apakah ada yang ingin keluar dari kerjaannya karena merasa tidak nyaman?
Apakah ada yang cenderung menghabiskan uang gajiannya untuk hal-hal yang kurang bermanfaat? Memilih konsumtif daripada produktif. Memilih menghabiskan, daripada menabung atau melipatgandakannya?
Dari berbagai pertanyaan sebelumnya, tentu banyak yang mendapatkan kabar baik, namun tak sedikit juga yang belum mendapatkannya. Tidak apa-apa. Mungkin belum saatnya.
Mungkin Dia sang pemberi hidup sedang menguji kesabaran kita. Toh hidup juga bukan perlombaan, tentang siapa yang lebih cepat, dan tentang siapa yang merasa dirinya paling pecundang. Tapi tentang siapa yang sudah siap mendapatkannya.
Tidak apa-apa, bersabarlah sedikit lagi. Pelan-pelan. Tidak usah terlalu cepat, dan tidak perlu terlalu lamban. Siapa yang tekun, ia akan akan tekan pada waktunya.
Apakah kita boleh kecewa dengan harapan-harapan, atau mimpi-mimpi yang belum terwujud? Tentu Boleh! Karena kecewa adalah bagian dari perasaan. Manusiawi bukan? Kecewa adalah subjek pelengkap kedirian kita sebagai manusia.
Namun, kecewa tentu tidak boleh dibiarkan berlarut. Semakin kita memikirkan, memikirkan dan terus memikirkan suatu kegagalan, permasalah itu akan terus berputar-putar di dalam kepala kita. Ia hanya akan memenuhi isi kepala kita yang sempit, dan mungkin saja akan meledak dalam bentuk tindakan atau kata yang kurang berkenan.
Boleh saja kita merasakan demikian. Kita adalah insan yang bisa senang, sedih ataupun kecewa. Boleh saja kita merasa jatuh terpuruk. Akan tetapi mari bangkit. Jangan berbaring terlalu lama, dan jangan tidur terlalu lelap. Mari, bangun dan bangkit. Melesatlah lebih jauh.
Kaka ari wahankae, saya percaya, dan mungkin kita sepakat bahwa tentu banyak hal baik yang sudah tercapai di tahun 2022 ini.
Pertanyaannya, sudahkah kita mensyukurinya? Atau kita terbuai oleh kesenangan hingga lupa pada ia Sang Pemberi Hidup?
Terkadang, menjaga lebih sulit daripada mendapatkan. Mempertahankan lebih sukar dari pada memperoleh. Oleh karena itu, jangan terbuai dengan keberhasilan, tetaplah rendah hati dan selalu menjadi manusia yang penuh syukur. Tentu tidak lupa juga pada orang lain yang selalu mendukung kehidupan kita.
Mari, kuatkan hati. Bersabarlah sedikit lebih lama. Sedikit lagi. Berjuanglah lagi dan lagi. Mari kita penuh suka cita menyambut tahun 2023 ini. Semoga adanya tahun 2023 ini, kita semakin mensyukuri apa saja sudah tercapai dan semakin memaknai apa yang belum tercapai.
Tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja. Toh hidup tidak selalu diisi dengan baik-baik saja. Sepakat bukan?
Terkadang kita perlu sakit untuk sadar akan kesehatan. Terkadang kita perlu gagal untuk memahami arti dari sebuah kesabaran. Terkadang kita perlu dikhianati, agar kita belajar apa artinya setia. Terkadang kita perlu dihina, agar kita belajar, bagaimana menghargai. Itulah hukum keseimbangan.
Kaka ari wahangkae, semoga kita semua selalu diberi kesehatan. Dimudahkan dalam ekonomi, relasi dengan orang di sekitar dan semakin tumbuh ke arah yang lebih baik. Semoga yang berjuang akan mendapatkan, yang mencari akan memperoleh dan yang terus berusaha, segera sampai di titik akhir.
Semangat untuk para perantau. Jadilah mata panah yang siap lepas dari busur untuk melesat mengenai sasaran. Jadilah seperti singa yang siap meninggalkan sarangnya, untuk bisa mendapatkan mangsa.
Akhir renungan, saya ucapkan.
Lera Wulan Tanah Ekan, nei kame meka menu reron geta, nei kame rero pi. Soro soba nala kame, aka mete kame te raran date, naku look kame te laran ata da.
“Pulo Pupuro Perutu Sama Wua Lali Wayak, Lema Boito Menoit Helon Malu Weli Sepen. Ake ope ake aka. Ake buno ake tupa. Tite kakan noon nari, Tobo teit ata ekan. Lewo tanah ni, soga jaganem, helu lewo tanah Adonara jaga gerihanem.
Amin.
Foto: Terasjabar.id
Leave a Reply