Para Orang Tua, Sadari Empat Hal Berikut ini Mempengaruhi Anak Seumur Hidup

Budaya
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Setiap kita tumbuh besar di rumah. Bukan hanya soal sebuah bangunan, rumah bagi kami adalah sebuah ekosistem, fisik maupun psikis, yang terlihat maupun yang tidak terlihat, semua yang bisa ditangkap indrawi maupun yang ditangkap emosi, tempat kita tumbuh.

Karena rumah juga berarti semua aktivitas indrawi maupun emosi maka, lingkungan rumah di mana tempat kita tumbuh besar tentu memberi pengaruh besar bagi pertumbuhan setiap kita. Dalam tahap tahap pertumbuhan itu, seluruh dinamika yang terjadi di rumah memberi pengaruh signifikan bagi kita semua.

Alam bawa sadar kita akan merekam dan menyimpan semua gerak kehidupan yang terjadi di rumah, yang kemudian membentuk siapa diri kita.

Baca Juga:

Membangun Harapan Dalam Perkawinan: Antara Tradisi, Cinta dan Realitas Finansial

Karena itu, kita para orang tua, harus benar-benar menyadari bahwa apapun yang kita lakukan, akan berpengaruh pada anak-anak kita. Kebiasaan di rumah, suasana bahkan jumlah anggota keluarga di dalam rumah pun dapat memberi pengaruh yang signifikan, pengaruh yang membentuk watak dan kepribadian seseorang.

Secara umum, empat hal berikut ini yang harus menjadi perhatian para orang tua, sebab dapat membentuk watak dan kepribadian anak-anak seumur hidup mereka.

Pertama : Kelekatan.

Kelekatan berkaitan erat dengan keterikatan emosi antara seseorang dengan orang lain. Ikatan emosi ini mulai terbentuk pada diri seseorang sejak ia masih didalam kandungan.

Banyak orang menyadari bahwa sejak dalam kandungan seseorang sudah dapat mengenali emosi dan suasana hati ibunya. Itu benar. Kelekatan antara seorang bayi dengan orang dewasa yang mengasuhnya, bisa saja Ibu kandungnya, pengasuh atau kakek dan neneknya, kakak atau adiknya, bahkan saudara kembarnya.

Baca Juga:

Toxic Masculinity Tumbuh Subur Pada Lingkungan Keluarga Seperti Ini

Kelekatan ini akan mempengaruhi cara kita membangun kepercayaan diri,  membangun kepercayaan pada orang lain, rasa aman, menyadari dan mengungkapkan cinta dan kasih sayang, cara komunikasi, perasaan berharga dan menghargai yang akan membentuk karakter kita.

Anak yang diasuh oleh orang tua kandung, tentu berbeda kelekatannya dengan anak yang tumbuh besar bersama pengasuh yang bukan orang tua, termasuk oleh kakek dan neneknya.

Anak tunggal atau mereka yang memiliki beberapa anak juga memeiliki kelekatan yang berbeda. Anak pertama, anak kedua, atau anak bungsu tentu juga mengalami banyak hal yang berbeda dengan saudara-saudarinya, bahkan ketika kita para orang tua merasa bahwa kita memiliki pola asuh yang sama kepada setiap anak, tanpa membedakan yang sulung atau anak bungsu.

Baca Juga:

Refleksi Hari Pendidikan: Peran Keluarga di Rumah dan Sekolah Kita

Kedua: Relasi dengan Orang lain.

Kebiasaan berelasi dengan orang lain yang terjadi di rumah akan mempengaruhi bagaimana kita membangun relasi dengan orang lain. Dari relasi yang kita alami di rumah, kita akan belajar hingga membentuk bagaimana cara kita berrelasi dengan orang lain.

Orang tua yang hangat dan terbuka tentunya akan membuat cendrung bersikap hangat dan terbuka pada orang lain, siapapun dia yang kita temui. Pun sebaliknya.

Ketiga: Cara menghadapi dan menyelesaikan tantangan.

Ketika menghadapi tantangan atau masalah, kita belajar dari orang tua kita bagaimana mereka menghadapi dan menyelesaikan tantangan atau masalah yang terjadi seiring pertumbuhan kita.

Baca Juga:

Maukah Menukar Waktu Berkualitas Anda Bersama Keluarga Dengan Uang?

Keluarga yang terbiasa saling berbagi cerita suka dan duka, terbuka mendiskusikan berbagai hal, mau mendengarkan dan menerima pendapat yang berbeda, akan membentuk kita menjadi pribadi yang demikian juga.

Anak-anak kita adalah peniru paling wahid. Intonasi suara, mimik wajah, bahkan bahasa tubuh yang lainpun bisa dengan muda ditiru. Cara kita orang tua mengendalikan dan menyalurkan emosi, entah emosi negatif atau emosi positif, dapat membentuk dan menjadi contoh bagaimana anak-anak kita mengendalikan dan menyalurkan emosi mereka.

Pun sebaliknya, ketika rumah kehilangan situasi berdiskusi secara terbuka, tidak ada kesediaan untuk berbagi dan mendengar, menghindari masalah alih-alih menyelesaikannya, tertutup, tidak bisa mengendalikan emosi negatif atau menyalurkan emosi negatif dengan cara yang salah pun akan mempengaruhi seisi rumah.

Baca Juga:

Cara John D. Rockefeller Mendidik Anak; Jadi Kunci Sukses Hingga Generasi ke-5 Keluarga Terkaya

Keempat: Cara Memaknai Kehidupan.

Setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup akan memberi pelajaran yang berharga bagi setiap kita. Dari keluarga kita akan belajar bagaimana kita mengambil dan memilih sisi positif dari setiap peristiwa, entah baik ataupun buruk, yang terjadi dalam hidup kita.

Jika kita orang tua menganggap bahwa nilai tertinggi dalam kehidupan kita adalah pengalaman akademis, maka kecenderungan kita memaksa anak-anak kita menjadi juara kelas lebih besar. Les ini itu, belajar lebih keras, membaca lebih banyak agar anak-anak menjadi juara kelas. Asal jadi juara, bukan asal anak bahagia.

Ketika kita menganggap bahwa benda benda duniawi lebih penting dibanding dengan kehadiran, ketika hadiah lebih penting dari perhatian maka kita cenderung mengatasi tantrumnya anak dengan hadiah atau jajan, dan menganggap itu sudah cukup. Anak tidak harus pintar akademis, asal pintar cari duit.

Baca Juga:

Hi Ayah, Aku Membutuhkan Kehadiranmu Dalam Hidupku

Anak anak akan belajar untuk bertindak cukup, tentu bukan dari keserakahan kita. Ketika anak mengalami cinta dan kasih sayang yang melimpah maka ia tidak akan mencari bentuk-bentuk perhatian yang lain untuk memenuhi kebutuhan akan cinta dan kasih sayang yang belum terpenuhi di rumah.

Bisa saja, korupsi dan ketamakan, kekuasaan yang salah, terjadi sebagai bentuk kompensasi dari belum terpenuhinya perhatian dan kasih sayang dalam keluarga. Anak belajar berkata dan bertindak “cukup” ketika kita para orang tua juga memilih untuk bertindak “cukup”.

Dari rumah kita belajar untuk menyadari kesejatian diri kita, kekuatan dan kesanggupan kita, bagaimana kita berkompromi dengan setiap peristiwa dan mengambil nilai positifnya, mengusahakan dan membangun cara komunikasi positif.

Baca Juga:

Tentang Hak Asuh Anak (Bagian 2): Ketika Kepatuhan Hukum Berhadapan Dengan Kebutuhan Emosional Balita

Hal lainnya yang juga penting adalah dari rumah kita belajar tentang control : mengarahkan dan menyalurkan berbagai bentuk emosi negatif. Dari rumah kita belajar tentang berkata dan bertindak “cukup”.

Tulisan ini terinspirasi dari topik 1 – Inilah Diriku : Membangun Rumah Tangga (MRT) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ)

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of