Menyongsong Tahun Ajaran Baru: Dari Jerman belajar Mempersiapkan Anak-Anak Kita Sebelum Masuk SD

Nasional
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Hari tadi, tidak sengaja melihat sebuah video reals dari akun @vicky_natasha tentang bagaimana Orang Jerman menyiapkan anak-anak untuk masuk sekolah dasar. Vicky Natasha dalam video tersebut menyebutkan perbedaan bagaimana Jerman menyiapkan anak-anak sebelum masuk sekolah dasar dengan bagaimana kebanyakan kita di Indonesia menyiapkan anak-anak untuk masuk sekolah dasar.

Dalam keterangan video tersebut pemilik akun menulis demikian “ Buat Guru SD di Jerman pun bukan CALISTUNG yang paling penting”

Menurutnya kalau anak-anak sudah disiapkan secara baik, hal-hal dasar yang memang dibutuhkan oleh anak, maka CALISTUNG bukan lagi menjadi masalah besar.

Baca Juga:

Peran Keteladanan Orang Tua dan Guru dalam Keberhasilan Pendidikan Karakter Anak

Sementara di Indonesia, Vicky Natasha menjelaskan bahwa anak-anak sudah dikejar-kejar target akademik sebagai kesiapan mereka masuk Sekolah Dasar.

Ini bisa diamati dari bagaimana banyak taman kanak-kanak (TK) di Indonesia menargetkan anak-anak menguasai baca tulis dan berhitung sebagai tanda kesiapan masuk SD.

Vicky Natasha kemudian menjelaskan apa hal penting yang menjadi focus persiapan anak-anak di Jerman sebelum mereka memasuki jenjang Sekolah Dasar.

Baca Juga:

Ketika Dongeng Digantikan Layar : Menjaga Koda Anak di Era Digital

Pertama: Kemandirian Sosial.

Dalam narasinya, Vicky Natasha menjelaskan bahwa yang menjadi ukuran kemandirian sosial yang disasar orang tua dan sekolah dasar di Jerman diantaranya “apakah anak berani bertanya ketika menemukan kesulitan? Apakah anak tahu dan mau mencari pertolongan dan meminta bantuan Ketika menemukan kesulitan?

Selain keberanian untuk berkomunikasi, anak harus bisa menunjukan kepercayaan diri untuk berinteraksi dengan teman sebaya, dengan guru dan juga dengan orang dewasa lain di lingkungan sekolah.

Anak memiliki pemahaman akan aturan di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah, berani dan dapat  berinteraksi dengan teman-teman sebayanya secara baik. Anak sudah memiliki kemampuan untuk fokus menyimak instruksi dari guru.

Baca Juga:

Studi Ini, Memberi Pesan Bagaimana Orang Tua Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab dan Kemandirian Pada Anak

Kedua: Toleransi Frustasi

Menurutnya anak-anak di Jerman untuk masuk sekolah dasar minimal memiliki tingkat toleransi terhadap rasa frustasi. “kalau pensilnya patah dia tantrum atau cari solusi?” kata Vicky.

Ketika menghadapi kendala apakah anak-anak menyerah atau mencoba lagi dan lagi. Atau misalnya bagaimana respon anak ketika mainannya direbut teman nya? Apakah anak mengamuk atau mengkomunikasikan hal itu secara baik.

Bagaimana sikap anak ketika ‘berkonflik’ dengan teman-temannya, apakah mengamuk, menangis histeris atau memiliki perilaku destruktif lainnya ketika sedang menghadapi kesulitan.

Apakah anak masih tantrum ketika ditinggal orang tuanya? Apakah anak sudah memiliki focus untuk mengikuti pelajaran di kelas atau masih sibuk dengan dunianya sendiri?

Anak sudah memiliki cukup daya tahan untuk berkonsentrasi dan mengikuti jadwal pelajaran dalam durasi yang panjang.

Intinya bahwa anak-anak sebelum masuk SD sudah dipastikan memiliki tingkat kematangan emosional yang cukup sesuai dengan perkembangan emosi anak-anak seusianya.

Baca Juga:

Mengembangkan Sikap Tanggung Jawab pada Anak

Dan Ketiga : Kemampuan sehari hari.

Orang tua harus memastikan bahwa  anak-anak sudah memiliki kemandirian untuk mengurus kebutuhan pribadinya sendiri. Mandiri ke toilet. Mengenali barang milikinya. Membuka dan memakai sepatu. Bisa membawa tasnya sendiri.  Makan tanpa disuapi dan menghabiskan makanannya.

Tanda tanda kemampuan sehari-hari lainnya yang harus dimiliki anak sebelum masuk SD antara lain mampu menjaga barang-barang pribadinya, tau dan mengenali barang miliknya, tau dan mau membuang sampah dan dapat terlibat menjaga kebersihan kelas; menyapu, membuang sampah dan lainnya.

Belajar dari Jerman, menurut Vicky Natasha yang paling penting adalah anak memiliki kesiapan untuk belajar. Anak harus memiliki kematangan emosional, kognitif dan motorik tertentu, bukan semata-mata memiliki kecakapan akademik tertentu semisal CALISTUNG.

Gambar ilutrasi dibuat dengan bantuan AI

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of