Dokumenter Pesta Babi: Instrumen Menjaga Suara Dan Wajah Manusia Papua

Lingkungan Hidup
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Terlepas dari pro dan kontra terhadap Film Dokumenter Pesta Babi; saya yang selama ini hidup berdampingan dan melayani serta berjalan masyarakat adat Dayak yang terus berjuang untuk merawat dan mempertahankan hutan, tanah dan air sebagai bagian dari hidup dan relasi sosial mereka dengan semesta yang tak terpisahkan dari gempuran korporasi pemodal (kelapa sawit dan batubara) dan kekuasaan. 

Karena itu melihat film dokumenter Pesta Babi adalah sebuah undangan dan panggilan untuk menjaga Suara dan Wajah Manusia Papua yang tidak bisa dipisahkan dari hutan, tanah dan air sebagai ibu bumi Manusia Papua.

Saya sendiri tidak mau masuk soal urusan sutradara dan pembuat cerita dalam film dokumenter Pesta Babi. Termasuk tidak mau memperdebatkan siapa seharusnya yang menjadi subjek atau objek dalam film dokumenter Pesta Babi. 

Baca Juga:

Aparat Keamanan Perlu Lebih Cepat dan Antisipatif dalam Melindungi Guru di Pedalaman Papua

Karena seperti masyarakat adat lainnya misalnya masyarakat adat Dayak, masyarakat Papua juga mengalami situasi sulit yang berhubungan dengan hutan, tanah dan air di mana mereka justru mengalami polarisasi terpinggirkan dan terkucilkan dari identitas sosial mereka karena masuknya pemodal yang didukung oleh kekuatan penguasa mengatasnamakan kesejahteraan dan keadilan namun ruang sosial mereka justru hancur lebur.

Tanpa film dokumenter Pesta Babi sekalipun kita semua tahu dan sadar betul bahwa masyarakat adat dalam hal ini Papua sudah sekian lama “dimiskinkan” dengan dalih keadilan sosial dan kesejahteraan. 

Sudah berapa Presiden yang memimpin Republik ini yang telah mensejahterakan mereka? Dari segi Pendidikan, Ekonomi, Infrastruktur, Kesehatan dan lainnya, masyarakat Papua masih mengalami keterpurukan, jauh dari bahasa keadilan sosial dan kesejahteraan, meski mereka selalu kita banggakan sebagai “surga kecil” yang jatuh dari langit.

Maka bagi saya pribadi, film dokumenter Pesta Babi adalah sebuah bahasa simbolik dari yang kita sebut sebagai perjuangan tanpa kekerasan, sebuah panggilan solidaritas untuk berpikir dan berjalan bersama masyarakat Papua dengan tetap menjaga suara dan wajah manusia Papua yang nampak jelas dari hutan, tanah dan air. 

Baca Juga:

Membangun Literasi Mewartakan Masa Depan Anak-anak Papua

Film dokumenter Pesta Babi bukanlah sebuah mobilisasi massa untuk melawan pemerintah melalui Proyek Strategi Nasional (PSN), melainkan sebuah ruang diskusi untuk melihat, menilai dan mengevaluasi proyek pemerintah ini;

“Apakah PSN sungguh membawa keadilan dan kesejahteraan atau sungguh-sungguh menjaga suara dan wajah masyarakat Papua atau justru semakin mengucilkan dan memiskinkan mereka yang dalam bahasa lain justru membungkam suara dan merusak wajah (alam semesta) masyarakat Papua?”

Pesan Paus Leo XIV pada hari Komunikasi Sosial (Komsos) Sedunia ke-60; “Menjaga Suara dan Wajah Manusia” kiranya menjadi sebuah refleksi bersama dalam melihat kehadiran film dokumenter Pesta Babi ini. 

Film ini bukanlah AI (Artificial Intelligence) yang mengubah suara perjuangan dan wajah surga kecil masyarakat Papua hanya sekedar untuk mencari empati, simpati dan solidaritas, melainkan menjadi sebuah ruang diskusi untuk melihat Papua dari dekat dan secara mendalam.

Baca Juga:

Telah Hadir Universitas Internasional Papua, Ini Program Studi Unggulannya

Ini juga merupakan sebuah panggilan nurani untuk bersolider dalam sebuah perjuangan kemanusiaan tanpa kekerasan sekaligus sebagai sebuah ketukan pintu nurani kemanusiaan untuk pemerintah agar bersama-sama menjaga keaslian wajah masyarakat Papua.

Hal diatas bisa ditempuh melalui usaha dan program yang tidak merusak dan mengucilkan namun merawat dan mendekatkan mereka untuk sungguh merasakan bahwa program itu membawa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat Papua.

Proyek Strategis Nasional memang milik pemerintah. Namun kita juga harus sadar bahwa masyarakat Papua juga memiliki cara pengelolaan yang meskipun tradisional namun tidak merusak pun pula tidak mengubah suara dan wajah mereka sendiri. 

Kita harus belajar pada pengalaman di beberapa tempat bahwa keadilan dan kesejahteraan selalu digaungkan dalam setiap Proyek Strategis Nasional dari pemerintah, namun di lapangan yang terjadi adalah masyarakat adat pada akhirnya semakin terpinggirkan dan terkucilkan sedangkan para pemodal semakin kaya raya bahkan korupsi semakin merajalela.

Baca Juga:

Yoseph Minai, Pemimpin Masa Depan Tanah Papua

Masyarakat Papua memiliki kekayaan alam yang luar biasa, namun kita dalam hal ini pemerintah lupa untuk membuka jalan pemasaran bagi mereka. Saya contohkan saja sagu. Semua orang Indonesia juga tahu bahwa sagu adalah makanan “pokok” masyarakat Papua. 

Kenapa pemerintah tidak berpikir untuk memberikan pembinaan dan pendampingan yang lebih baik bagi masyarakat Papua untuk mengolah sagu dengan baik dan bagus agar bisa dipasarkan? 

Dan kalau sudah berhasil dipasarkan maka kemudian memikirkan peluang pemasaran sehingga keadilan dan kesejahteraan itu sungguh dialami oleh masyarakat Papua tanpa mengubah wajah asli sagu dari kehidupan masyarakat Papua.

Pembubaran Adalah Cara Mengubah Suara dan Wajah Masyarakat Papua

Sejatinya tidak ada yang perlu ditakutkan dari film dokumenter Pesta Babi kalau kita semua sadar bahwa film tersebut merupakan suara keadilan dan kesejahteraan yang selama ini dibungkam dan wajah masyarakat asli Papua yang selama ini dirusak dengan segala bentuk proyek yang diawal mengatasnamakan keadilan dan kesejahteraan namun diakhiri dengan korupsi dan pengrusakan lingkungan hidup.

Baca Juga:

Billy Mambrasar Pemuda Papua Pertama yang Menjadi Mahasiswa Harvard University

Paus Leo XIV menegaskan bahwa menjaga wajah dan suara berarti menjaga martabat dan jati diri manusia. Menerima peluang yang ditawarkan oleh teknologi digital dan kecerdasan buatan dengan keberanian, keteguhan dan kebijaksanaan tidak berarti mengabaikan kelemahan, ketidakjelasan dan risiko yang menyertainya. 

Dari pesan Paus Leo XIV ini, film dokumenter Pesta Babi menjadi sebuah media digital bagi kita yang sedang menyuarakan kemanusiaan dan mengajak kita semua untuk ikut menjaga martabat dan jati diri masyarakat Papua dengan tetap mengedepankan nurani dan kebijaksanaan bahwa perjuangan tidak seharusnya merusak martabat dan jati diri manusia lainnya.

Kalau semua pihak berpikir lebih kritis dan cerdas, maka pemutaran dan nobar film dokumenter Pesta Babi tidak seharusnya dihalangi atau dibubarkan melainkan sebagai ruang dialog bersama tanpa ada kecurigaan dan prasangka buruk untuk menemukan jalan keluar bersama yang membawa kebaikan bagi martabat dan jati diri masyarakat Papua serta keadilan sosial bagi semuanya. 

Baca Juga:

Teluk Triton, Pesona Wisata Papua Barat yang Terlupakan

Sebaliknya jika masih ada yang melarang pemutaran film dokumenter Pesta Babi dan membubarkan nobar film tersebut dengan alasan mengganggu stabilitas atau karena belum ada ijin, sejatinya kita sedang menutup ruang dialog dan komunikasi yang humanis sekaligus tetap memandang rendah martabat dan jati diri masyarakat Papua.

Mari kita membuka mata hati dan nurani kemanusiaan untuk melihat film dokumenter Pesta Babi sebagai ajakan untuk merenung bersama tentang keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat Papua dengan tetap menjaga wajah dan suara mereka yang adalah martabat dan jati diri mereka sebagai manusia Papua dan Indonesia.

Gambar ilustrasi dibuat dengan bantuan AI

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of