Eposdigi.com – Pembunuhan terhadap aktivis pekerja pelabuhan Ermanto Usman (65) menyisakan banyak tanda tanya.
Aktivis yang dikenal vokal mengungkap dugaan korupsi di Jakarta International Container Terminal (JICT)–Pelindo itu tewas secara tragis di rumahnya pada awal Maret 2026.
Dalam peristiwa tersebut, sang istri juga menjadi korban dan hingga kini dilaporkan masih dalam kondisi kritis.
Kematian Ermanto memicu dugaan kuat adanya kaitan antara pembunuhan tersebut dengan upayanya mengungkap dugaan praktik korupsi di salah satu terminal peti kemas terbesar di Indonesia itu.
Baca Juga:
LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) menjadi salah satu pihak yang menilai bahwa peristiwa ini tidak bisa dilepaskan dari aktivitas Ermanto yang belakangan kembali intens membuka kasus dugaan korupsi di lingkungan JICT–Pelindo.
Presiden LSM LIRA, KRH. HM. Jusuf Rizal, SH, mengatakan bahwa sebelum peristiwa itu terjadi pihaknya telah menjadwalkan pertemuan dengan Ermanto untuk membahas kerja sama dalam mengungkap dugaan praktik korupsi yang disebut-sebut merugikan negara hingga Rp4,08 triliun.
“Beliau sudah lama mengumpulkan data. Kami rencananya akan bersinergi untuk membawa persoalan ini ke level yang lebih serius,” kata Jusuf Rizal di Jakarta.
Baca Juga:
Kasus Lama yang Tak Pernah Tuntas
Dugaan korupsi di JICT sebenarnya bukan isu baru. Kasus ini pernah menjadi sorotan publik pada 2015 ketika Komisi III DPR RI membentuk Panitia Khusus (Pansus) Pelindo II yang dipimpin Masinton Pasaribu.
Namun proses tersebut tidak berlanjut hingga tuntas. Perubahan konfigurasi politik, pergantian menteri, hingga dinamika pemerintahan membuat penanganan kasus tersebut terhenti di tengah jalan.
Sejak saat itu, sejumlah pihak menilai kasus tersebut seperti “mengendap” tanpa kejelasan.
Ermanto Usman termasuk salah satu pihak yang tidak berhenti mengangkat isu tersebut. Sebagai mantan aktivis serikat pekerja di JICT, ia mengaku memiliki sejumlah data dan informasi terkait dugaan penyimpangan dalam pengelolaan terminal peti kemas tersebut.
Dalam beberapa kesempatan, Ermanto bahkan secara terbuka menyebut sejumlah tokoh yang menurutnya perlu dimintai klarifikasi, di antaranya Rini Soewandi, Erick Thohir, dan Boy Thohir.
Baca Juga:
Dukung Prabowo Berantas Korupsi dan Hukum Mati Koruptor Kakap, LSM LIRA Sampaikan Lima Maklumat
Rencana Pengungkapan yang Terhenti
Menurut Jusuf Rizal, sebelum meninggal dunia Ermanto berencana menyampaikan data yang dimilikinya kepada sejumlah pejabat tinggi negara.
Di antaranya kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Kejaksaan Agung, Kementerian Hukum dan HAM, Menteri Pertahanan Syafrie Samsuddin, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, hingga Presiden Prabowo Subianto.
Namun rencana tersebut tidak pernah terlaksana.
Menjelang subuh pada awal Maret 2026, Ermanto ditemukan tewas setelah menjadi korban pembunuhan di rumahnya sendiri.
Peristiwa ini langsung memunculkan spekulasi bahwa ada pihak-pihak yang merasa terancam dengan aktivitas pengungkapan yang sedang dilakukannya.
Baca Juga:
LSM LIRA dan Relawan Prabowo Buka Kotak Pos Prabowo: Jadi Solusi Tampung Info Korupsi Pejabat Negara
LIRA Bentuk Tim Investigasi
LSM LIRA menilai pembunuhan terhadap aktivis antikorupsi merupakan sinyal serius yang tidak boleh dianggap sebagai kriminalitas biasa.
Jusuf Rizal mengatakan organisasinya akan membentuk tim investigasi independen untuk membantu aparat kepolisian mengungkap dalang di balik pembunuhan tersebut.
“Perilaku koruptor sekarang semakin brutal. Ketika pengungkapan mulai mendekat, yang terjadi justru kekerasan. Ini tidak boleh dibiarkan,” tegasnya.
Selain itu, LIRA juga berkomitmen melanjutkan pengusutan dugaan korupsi di JICT–Pelindo dengan memanfaatkan data awal yang sebelumnya dikumpulkan oleh Ermanto Usman.
Baca Juga:
Forum Jamsos Pertanyakan Penggunaan Dana BPJS Ketenagakerjaan untuk Tapera
Seruan untuk Aktivis Antikorupsi
Bagi Jusuf Rizal, kematian Ermanto tidak boleh menjadi akhir dari upaya pengungkapan kasus tersebut. Ia menilai peristiwa ini justru harus menjadi momentum bagi para aktivis dan pegiat antikorupsi untuk bersatu.
“Jangan sampai nyawa Ermanto Usman melayang sia-sia. Jika negara serius memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya, maka kasus seperti ini juga harus dibuka terang-benderang,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa komitmen pemberantasan korupsi yang sering digaungkan pemerintah harus dibuktikan dengan keberanian mengusut kasus-kasus besar tanpa pandang bulu.
“Kalau koruptor bisa bertindak brutal, rakyat juga harus berani melawan. Perjuangan melawan korupsi tidak boleh berhenti hanya karena intimidasi,” kata Jusuf Rizal.
Baca Juga:
Menunggu Kejelasan
Hingga kini aparat penegak hukum masih menyelidiki kasus pembunuhan tersebut. Publik menunggu apakah kematian seorang aktivis pelabuhan ini benar-benar terkait dengan dugaan korupsi besar yang selama ini ia ungkap.
Jika dugaan itu terbukti, maka kematian Ermanto Usman bukan sekadar kasus kriminal, melainkan potret kelam dari risiko yang dihadapi para pengungkap kebenaran di negeri ini.
Leave a Reply