Asa MBG di Flores Timur: Dari Kebun Ke Kantin Sekolah

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Fakta bahwa banyak anak-anak sekolah, penerima MBG, mengalami keracunan setelah mengkonsumsi MBG, harus bisa memaksa pemerintah pusat  mengevaluasi secara serius program ini.

Makanan bergizi adalah hak asasi. Terutama pada anak-anak. Karena itu program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini sedang berlangsung harus didukung oleh kita semua. Salah satu bentuk dukungan itu adalah dengan berani mengevaluasi semua proses menuju kesempurnaan.

Salah satu ukuran minimal yang seharusnya menjadi pedoman kita semua untuk mengukur kesuksesan MBG adalah tidak ada lagi kasus keracunan akibat MBG.

Baca Juga:

Pendapat Ahli tentang Kasus Kematian Siswi SMKN 1 Cihampelas Setelah Sekolah ini Mengalami Keracunan MBG

Karena itu wacana mengenai penyedia MBG melalui kantin di setiap sekolah menjadi salah satu jalan keluar untuk mengejar target minimal ini.

Bukan lagi rahasia bahwa kasus keracunan MBG datang dari banyak factor. Dalam pencarian daring, kita bisa dengan mudah menemukan banyak faktor penyebab keracunan MBG ini.

Bakteri dan virus, bahan kimia, hingga proses mulai dari penyediaan bahan baku, penyimpanan, proses memasak, hingga pendistribusian MBG, semuanya menjadi faktor potensial penyebab keracunan MBG.

Baca Juga:

Belajar dari China, Menjadikan Program Makan Siang Gratis sebagai Investasi bagi Generasi Masa Depan yang Lebih Baik

Apakah kantin sekolah bisa menjadi solusi untuk mencegah kasus keracunan MBG? Belum tentu. Tidak ada jaminan 100 persen bahwa kasus keracunan MBG benar-benar bisa diselesaikan dengan satu solusi bernama kantin sekolah.

Minimal, kita bisa mengurangi banyak potensi keracunan jika MBG diproses pada unit-unit kecil di sekolah-sekolah. Kita bisa belajar dari banyak sekolah yang telah melakukan hal ini.

Jika di kantin sekolah maka, bahan baku menjadi lebih segar karena dekat dengan sumber penyedia. Skala yang kecil juga membuat proses memasak bisa diperhatikan secara sungguh, tidak memerlukan waktu lama. Tidak memerlukan distribusi karena langsung di lokasi sekolah, sehingga suhu ideal makanan bisa terjaga.

Baca Juga:

Kepala BGN; Inilah Faktor Penyebab Siswa Keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis

Apalagi jika yang memasak adalah orangtua siswa sendiri. Para ibu ini tentu tidak ingin menyajikan makanan yang berpotensi meracuni anak-anak mereka di sekolah tersebut.

Banyak faktor ini, bisa menjadi pertimbangan mengapa kantin sekolah menjadi sesuatu yang ideal dalam program MBG ini.

Namun PR besarnya belum selesai. MBG sesuai namanya, merupakan cara pemerintah untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kesehatan anak-anak sekolah melalui makanan bergizi.

Baca Juga:

Membaca Peluang Flores Timur, Pasca MOU Kemendes PDT – TNI – BGN

Tentunya kriteria makanan bergizi harus benar-benar terpenuhi dari semua kriteria pengukuran. Mulai dari pilihan menu, komposisi keanekaragaman bahan, penyajian dan faktor-faktor penentu lainnya.

Karena itu, harus ada intervensi dari para ahli gizi untuk memastikan bahwa yang nantinya tersaji kepada anak-anak adalah makanan yang terpenuhi gizinya, sesuai dengan kebutuhan anak. Maka kantin sekolah butuh didampingi oleh mereka yang profesional yang memiliki kompetensi terkait makanan bergizi ini.

Baca Juga:

Stunting dan Masa Depan Generasi Sebuah Bangsa Bernama NTT

Dalam konteks Flores Timur, kita membutuhkan jalan lain untuk benar-benar menjadikan program MBG sebagai titik picu untuk mengatasi banyak persoalan sekaligus. MBG adalah pintu masuk untuk pengentasan stunting, pemuliaan keanekaragaman sumber pangan lokal, tumbuhnya rantai ekonomi baru, hingga kedaulatan pangan.

Karena MBG membutuhkan pasokan bahan baku, maka MBG adalah pasar bagai berbagai hasil pertanian dan peternakan. Apalagi pertanian di Flores Timur memungkinkan tersedianya berbagai sumber pangan bergizi tinggi, semisal sorgum dan kelor.

Apalagi saat ini hampir semua desa di Flores Timur memiliki sekolah. Dengan demikian maka program MBG adalah jalan keluar bagi desa-desa di Flores Timur untuk memasarkan hasil pertaniannya.

Baca Juga:

Kandungan Gizi Enam Makanan Ini Sangat Diperlukan untuk Pembentukan Otak dan Meningkatkan Kecerdasan

MBG juga menjadi peluang bagi desa-desa untuk tumbuhnya banyak potensi ekonomi baru misalnya peternakan ayam skala desa untuk daging dan telur. Juga menjadi sumber penghasilan tambahan bagi para nelayan kita.

Karena itu, kita berharap bahwa pemerintah kabupaten bisa mengambil jalan lain, agar program MBG di Flores Timur, tidak lagi menyajikan roti tawar dan susu kemasan.

Semoga pemda Flotim benar-benar bisa mendorong MBG sebagai jalan lain untuk mencegah stunting, meningkatkan kesehatan anak-anak, sekaligus sebagai salah satu upaya untuk mendorong pemuliaan pangan lokal, menuju kedaulatan petani di desa-desa.

Foto ilustrasi dari wahananews.co

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of