Antara Ketahanan Permainan Kroasia dan Persepsi Dependensi Portugal terhadap Intervensi VAR

Hobi
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Piala Dunia selalu lebih dari sekadar pertandingan sepak bola. Gelanggang ini merupakan panggung tempat strategi, teknologi, otoritas, dan persepsi publik saling berkelindan. 

Laga babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Portugal dan Kroasia menjadi contoh nyata bagaimana sebuah pertandingan tidak hanya dikenang karena skor akhir, tetapi juga karena perdebatan mengenai keputusan-keputusan wasit dan penggunaan Video Assistant Referee (VAR).

Di tengah kemenangan Portugal 2–1, banyak pengamat menilai bahwa Kroasia justru memperlihatkan ketahanan permainan yang luar biasa, sementara keputusan-keputusan krusial memunculkan persepsi bahwa momentum kemenangan Portugal sangat dipengaruhi oleh intervensi teknologi.

Fakta pertandingan tetap tidak dapat diabaikan. Portugal tampil dengan kualitas individu yang tinggi, penguasaan bola yang lebih dominan, dan efektivitas di sepertiga akhir lapangan. 

Namun, Kroasia menunjukkan sesuatu yang selama dua dekade menjadi identitas sepak bolanya, yaitu; resiliensi. Tim ini mampu menjaga organisasi permainan, mengurangi ruang antar lini, dan bertahan secara disiplin menghadapi tekanan lawan. 

Dalam perspektif ilmu kepelatihan modern, resiliensi merupakan kemampuan mempertahankan struktur kolektif ketika berada dalam tekanan tinggi, suatu karakteristik yang sering menjadi pembeda antara tim besar dan tim yang hanya mengandalkan bakat individu.

Di sinilah letak paradoks pertandingan. Kroasia tampak tidak kalah secara mental maupun organisasi permainan, tetapi hasil akhir tetap berpihak kepada Portugal. Perdebatan kemudian bergeser dari soal kualitas permainan menuju kualitas proses pengambilan keputusan. 

Penalti hasil tinjauan VAR serta gol Kroasia yang dianulir karena offside memunculkan diskusi luas mengenai konsistensi penerapan teknologi. 

Pertanyaannya bukan semata-mata apakah keputusan itu benar menurut regulasi, melainkan apakah keputusan tersebut cukup transparan untuk menghasilkan rasa keadilan di mata publik.

Persoalan ini dapat dibaca melalui teori tindakan komunikatif dari Jürgen Habermas. Habermas berpendapat bahwa legitimasi sebuah keputusan tidak hanya bergantung pada kebenaran formal, tetapi juga pada penerimaan rasional oleh publik melalui prosedur yang dianggap adil. 

Dalam sepak bola modern, VAR hadir untuk meningkatkan objektivitas. Namun, ketika proses komunikasi mengenai alasan keputusan tidak dipahami atau tidak dirasakan konsisten oleh pemain dan penonton, legitimasi prosedural itu ikut dipertanyakan.

Dengan kata lain, teknologi dapat menghasilkan keputusan yang sah secara aturan, tetapi belum tentu dianggap adil secara sosial.

Dari perspektif lain, Michel Foucault mengingatkan bahwa kuasa tidak selalu bekerja melalui paksaan, melainkan melalui mekanisme yang menentukan apa yang dianggap benar. Dalam sepak bola, wasit dan VAR memiliki otoritas untuk membentuk realitas pertandingan. 

Sebuah gol dapat berubah menjadi bukan gol; pelanggaran dapat muncul setelah tayangan ulang; bahkan arah psikologis pertandingan dapat berubah hanya dalam hitungan detik. Kuasa tersebut bukan berarti identik dengan keberpihakan, tetapi menunjukkan bahwa teknologi telah menjadi aktor penting yang ikut menentukan narasi pertandingan.

Di sisi lain, analisis Friedrich Nietzsche mengenai will to power juga relevan. Nietzsche melihat kehidupan sebagai arena kontestasi berbagai kehendak untuk menegaskan diri. Dalam sepak bola, kehendak untuk menang tentu menjadi motor utama setiap tim. 

Namun, kemenangan yang memperoleh legitimasi paling tinggi adalah kemenangan yang lahir dari superioritas permainan, bukan kemenangan yang terus-menerus dibayangi kontroversi prosedural. 

Karena itu, ketika ruang publik lebih banyak membahas keputusan VAR daripada kualitas taktik Portugal, sesungguhnya citra kemenangan itu sendiri ikut mengalami erosi.

Kroasia justru meninggalkan pelajaran penting mengenai makna ketahanan. Negara dengan jumlah penduduk yang relatif kecil tersebut kembali menunjukkan bahwa organisasi permainan, disiplin taktis, dan karakter kolektif mampu membuat mereka bersaing dengan negara-negara yang memiliki sumber daya sepak bola jauh lebih besar. 

Dalam literatur manajemen olahraga, ketahanan kolektif (team resilience) dipahami sebagai kemampuan tim untuk mempertahankan performa optimal meskipun menghadapi tekanan, ketidakpastian, atau keputusan yang tidak menguntungkan.  Nilai inilah yang tetap terlihat pada Kroasia hingga peluit akhir berbunyi.

Perlu diketahui bahwa di era sepak bola berbasis teknologi, tantangan terbesar bukan lagi sekadar menghadirkan perangkat yang canggih. Tantangannya adalah memastikan bahwa teknologi tersebut memperkuat kepercayaan publik terhadap integritas pertandingan. 

VAR memang mengurangi kesalahan faktual, tetapi setiap intervensinya juga harus mampu membangun keyakinan bahwa keputusan yang diambil tidak hanya benar secara teknis, melainkan juga dapat dipahami secara rasional. Transparansi komunikasi menjadi sama pentingnya dengan akurasi teknologi.

Bagi Portugal, kemenangan ini tetap merupakan pencapaian yang sah. Tidak ada dasar untuk menyatakan bahwa hasil pertandingan tidak valid. 

Akan tetapi, kemenangan tersebut juga memperlihatkan bahwa dalam sepak bola modern, persepsi publik seringkali berkembang bukan hanya dari skor akhir, melainkan dari proses yang mengantarkan pada skor tersebut. 

Ketika proses dipenuhi kontroversi, kemenangan yang sah secara hukum permainan dapat tetap diperdebatkan dalam ruang opini.

Laga Portugal melawan Kroasia akhirnya mengajarkan kita bahwa sepak bola modern memiliki dua dimensi yang berjalan bersamaan. Dimensi pertama adalah kompetisi  teknis di atas lapangan, yaitu; kualitas taktik, efektivitas serangan, disiplin bertahan, dan kecerdasan membaca permainan.

Dimensi kedua adalah kompetisi legitimasi, yakni; bagaimana keputusan-keputusan otoritatif diterima oleh para pemain, pelatih, dan publik. Selama kedua dimensi ini belum sepenuhnya berjalan beriringan, teknologi akan terus menjadi sumber perdebatan, bukan sekadar alat penyelesai masalah.

Pada akhirnya, warisan terbesar pertandingan ini bukan hanya kemenangan Portugal ataupun tersingkirnya Kroasia. 

Warisan sesungguhnya adalah pengingat bahwa sepak bola modern membutuhkan tiga hal sekaligus, yakni; kualitas permainan, kualitas teknologi, dan kualitas legitimasi. Ketiganya harus berjalan seimbang. 

Sebab, tanpa legitimasi, kemenangan akan selalu menyisakan tanda tanya; tanpa teknologi, keadilan akan terus dipersoalkan; dan tanpa ketahanan permainan seperti yang ditunjukkan Kroasia, sepak bola akan kehilangan salah satu nilai paling luhur dalam olahraga: kemampuan untuk terus bertarung secara terhormat hingga peluit terakhir dibunyikan.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of