Eposdigi.com – Ejército Zapatista de Liberación Nacional (EZLN) atau Tentara Zapatista untuk Pembebasan Nasional di Meksiko, merepresentasikan bentuk perlawanan kontemporer terhadap neoliberalisme dan negara modern.
Dengan memperjuangkan otonomi masyarakat adat, demokrasi partisipatif, dan penolakan terhadap NAFTA, Zapatista menekankan pembangunan otonomi dari bawah, meskipun tidak secara formal religius, gerakan ini dipengaruhi oleh etika pembebasan dan tradisi komunitas basis (Harvey, 1998).
Gerakan Zapatista di Meksiko dipimpin secara simbolik dan politik oleh Subcomandante Marcos (kemudian Subcomandante Galeano), yang berperan sebagai juru bicara dan perumus diskursus ideologis EZLN.
Baca Juga:
Ibu dan Tanah: Hermeneutika Fenomenologi Atas Makna Konflik Dalam Budaya Adonara
Namun, kepemimpinan substantif berada pada komando kolektif masyarakat adat Maya Chiapas (Tzeltal, Tzotzil, Tojolabal, Chol), yang terorganisir dalam Comité Clandestino Revolucionario Indígena (CCRI), menegaskan prinsip kepemimpinan horizontal dan kolektif (Marcos, 2002; Collier & Quaratiello, 2005).
Ideologi Zapatista merupakan sintesis neo-Zapatismo, yang memadukan warisan Emiliano Zapata, Marxisme heterodoks, kosmologi adat, dan demokrasi radikal. Mereka menolak negara sentralistik dan revolusi vanguard klasik (Lenin, 1902/1977; Anderson, 2010), serta mengusung prinsip mandar obedeciendo.
Mandar obedeciendo adalah prinsip demokrasi radikal Zapatista yang menegaskan bahwa kepemimpinan dan kekuasaan dijalankan dengan menaati keputusan kolektif komunitas, sehingga otoritas politik bersumber dari kehendak rakyat dan berfungsi untuk melayani, bukan menguasai.
Baca Juga:
Tujuan perjuangan mereka adalah otonomi komunitas adat, keadilan sosial, demokrasi partisipatoris langsung, serta perlawanan terhadap neoliberalisme global yang dianggap memperdalam marginalisasi struktural (EZLN, 1994; Holloway, 2002).
Kasus paling dominan yang melatarbelakangi dan terus direproduksi dalam gerakan Zapatista adalah perampasan tanah dan pemiskinan struktural masyarakat adat akibat neoliberalisme, khususnya sejak diberlakukannya NAFTA (1994) yang menghapus perlindungan agraria komunal (ejido).
Zapatista memposisikan diri sebagai perlawanan terhadap akumulasi kapital ekstraktif, militerisasi negara, dan penghapusan kedaulatan komunitas atas tanah, budaya, dan pengetahuan lokal (Harvey, 1998; Speed, 2008).
Baca Juga:
Dalam konteks community empowerment, Zapatista merepresentasikan praktik pemberdayaan struktural dan otonom, di mana komunitas tidak sekadar “dilibatkan” tetapi menguasai proses pengambilan keputusan, produksi pengetahuan, dan tata kelola lokal melalui caracoles dan juntas de buen gobierno.
Caracoles adalah pusat wilayah otonomi Zapatista yang berfungsi sebagai ruang koordinasi politik, pendidikan, ekonomi, dan budaya, sekaligus simbol gerak perjuangan dari bawah yang berlapis, berproses, dan berbasis komunitas adat.
Juntas de Buen Gobierno adalah lembaga pemerintahan kolektif Zapatista di tingkat regional yang menjalankan prinsip mandar obedeciendo dengan mengkoordinasikan keputusan komunitas, mengelola keadilan dan pelayanan publik, serta menjaga otonomi dari kontrol negara dan kapital.
Baca Juga:
Model ini menjadi kritik radikal terhadap pendekatan partisipasi yang bersifat teknokratis dan kooptatif (Esteva & Prakash, 1998).
Apa pelajaran paling penting dari Mexico?
– masyarakat adat lintas wilayah terutama para pemimpin mereka, perlu bersatu kompak dalam bersikap, bersuara dan bertindak.
– membela kepentingan masyarakat adalah hukum yang tertinggi
– tak ada toleransi untuk pengkhianat dari dalam.
Leave a Reply